Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi Ramadan (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi Ramadan (IDN Times/Sukma Shakti)

Intinya sih...

  • Kemenag menggabungkan metode rukyat dan hisab untuk menentukan awal Ramadan

  • Arsad menyatakan perbedaan penentuan awal Ramadan adalah wajar dan masyarakat harus saling menghormati

  • Kementerian Agama akan gelar Sidang Isbat pada 17 Februari 2026 untuk menetapkan awal Ramadan 1447 H

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Umat Islam beberapa hari lagi akan menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadan 1447 Hijriah. Pada tahun ini, awal Ramadan antara pemerintah dan Muhammadiyah berpotensi berbeda.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Ditjen Bimas Islam Kemenag, Arsad Hidayat, mengatakan perbedaan itu terjadi karena perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah.

"Jadi ini memang ketika muncul statement dari salah seorang astronom bahwa tahun 2026 ini awal Ramadan kita akan berbeda. Ya sebenarnya kalau berbeda itu biasa gitu, karena cara pandang kemudian cara penetapan dari ormas-ormas Islam tersebut tidak sama," ujar Arsad di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Arsad mengatakan, ada ormas Islam yang menggunakan hisab saja, ada juga yang memakai pendekatan melihat secara langsung hilal. Selain itu, ada juga yang menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

1. Kemenag gabungkan dua metode

Pemantauan hilal 1 Syawal 1446 Hijriah di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (29/3/2025). (IDN Times/Asrhawi Muin)

Sementara itu, Kementerian Agama menggabungkan dua metode antara melihat posisi hilal dan hisab rukyat. Penentuan awal Ramadan biasa dilakukan pada sidang isbat.

Arsad mengatakan, dalam sidang isbat tersebut, sejumlah ormas Islam hingga duta besar negara sahabat juga diundang.

"Muhammadiyah, NU, Persis dan lain sebagainya kita undang. Kita dengarkan apa yang menjadi pandangan mereka masing-masing, kemudian dimusyawarahkan, kemudian diambil keputusan yang maslahat. Itulah yang nanti akan ditetapkan sebagai keputusan pemerintah kaitan dengan awal bulan suci Ramadan ya," ucap dia.

2. Wajar bila ada perbedaan

Pemantauan hilal di Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Arsad menyampaikan, penentuan awal Ramadan berbeda adalah wajar. Sebab, menggunakan metode yang berbeda.

Meski berbeda, kata Arsad, hal itu sah dilakukan. Oleh karena itu, Arsad mengimbau kepada masyarakat untuk saling menghormati apabila terjadi perbedaan awal Ramadan.

"Jadi kalau perbedaan wajar dan kita harus terlatih untuk menghormati perbedaan-perbedaan tersebut ya," kata dia.

3. Kemenag gelar sidang isbat pada 17 Februari 2026

Pemantauan hilal di Aceh (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Kementerian Agama menjadwalkan Sidang Isbat penetapan awal Ramadan 1447 H pada 29 Syakban 1447 H atau 17 Februari 2026. Kegiatan ini bertempat di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta, dengan agenda awal berupa seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat.

Data hisab memperlihatkan posisi hilal saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026 di seluruh Indonesia berkisar antara -2° 24.71' hingga 0° 58.08' dengan sudut elongasi 0° 56.39' sampai 1° 53.60'. Angka tersebut mengindikasikan posisi bulan belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS. Forum sidang isbat akan menggunakan hasil konfirmasi Rukyatul Hilal untuk melengkapi data hisab tersebut sebelum mengambil keputusan resmi awal Ramadan.

Editorial Team