Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Image 03-02-26 at 11.22.jpeg
Tes Skrining Mata yang dilakukan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (dok. Kemenkes)

Intinya sih...

  • Tes skrining mata dilakukan untuk atasi permasalahan gangguan penglihatan yang masih besar. Kemenkes telah melakukan skrining terhadap sekitar 55 juta penduduk berusia di atas 7 tahun.

  • Program tes skrining mata mendapat dukungan dari mitra global, seperti World Health Organization (WHO) dan OneSight EssilorLuxottica Foundation untuk mengeliminasi gangguan penglihatan yang dapat dicegah atau dikoreksi.

  • Program ditargetkan menjangkau wilayah terpencil, termasuk melalui penyediaan patient center di Kepulauan Seribu, guna memastikan layanan deteksi dini dan kesehatan mata yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menargetkan skrining kesehatan mata terhadap 140 juta masyarakat pada tahun 2026. Target ini diklaim akan dicapai melalui perluasan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Pada tahun 2026, melalui Program Cek Kesehatan Gratis, kami menargetkan skrining terhadap sekitar 140 juta masyarakat Indonesia, mulai dari bayi hingga lansia,” ujar Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, dikutip dalam keterangan pers, Selasa, (3/02/2026).

1. Tes skrining mata dilakukan untuk atasi permasalahan gangguan penglihatan yang masih besar

ilustrasi gangguan penglihatan (pexels.com/cottonbro)

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2025 Kemenkes telah melakukan skrining terhadap sekitar 55 juta penduduk berusia di atas 7 tahun. Hasilnya, sekitar 17 persen di antaranya mengalami gangguan penglihatan.

Lebih jauh, sekitar 3,6 juta anak Indonesia masih mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi. Kondisi tersebut berpotensi menghambat tumbuh kembang dan kualitas hidup anak.

2. Program tes skrining mata mendapat dukungan dari mitra global

Bendera World Health Organization (WHO) (United States Mission Geneva, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Lebih lanjut, upaya penguatan layanan kesehatan mata ini mendapat dukungan dari World Health Organization (WHO) melalui inisiatif global SPECS 2030. Inisiatif ini bertujuan mengeliminasi gangguan penglihatan yang dapat dicegah atau dikoreksi.

Perwakilan WHO Indonesia, Fransiska, menyampaikan apresiasi atas komitmen pemerintah yang bergabung dalam kerangka SPECS sejak Oktober 2025.

Sejalan dengan inisiatif global tersebut, OneSight EssilorLuxottica Foundation menyatakan kesiapan untuk bermitra dengan Kemenkes dalam memperluas jangkauan layanan kesehatan mata di Indonesia dengan mendukung pelatihan tenaga kesehatan.

"Mendukung pelatihan tenaga kesehatan, khususnya perawat, agar memiliki kapasitas melakukan pemeriksaan dasar penglihatan di tingkat layanan kesehatan primer," ujar Perwakilan OneSight EssilorLuxottica Foundation, Patricia Koh.

3. Program ditargetkan menjangkau wilayah terpencil

Pemeriksaan gangguan penglihatan pada anak-anak di Mataram, Kamis (10/10/2024). (IDN Times/Muhammad Nasir)

Sementara, program ini juga ditargetkan menjangkau wilayah terpencil yang dinilai sebagai bagian dari pemerataan guna memastikan layanan deteksi dini dan kesehatan mata yang inklusif dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Kemenkes menyebut salah satu langkah konkretnya adalah melalui penyediaan patient center di Kepulauan Seribu.

Sebelumnya, Kemenkes resmi menggelar acara “Launching of Improved Access to Eye Health in Indonesia dan Vision Screening Event” pada Senin, 2 Februari 2026 di Jakarta. 

Acara tersebut dinilai sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam memperluas akses layanan kesehatan mata dan menekan angka gangguan penglihatan yang terus meningkat di Indonesia.

Editorial Team