Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Donny Ermawan Taufanto
Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto ketika menjelaskan penggunaan tol untuk bisa didaratkan jet tempur. (www.instagram.com/@kemhanri)

Intinya sih...

  • Jalan multifungsi sebagai landasan pacu alternatif

  • Pendaratan jet tempur di jalan tol menjadi tonggak sejarah baru

  • Jalan yang bisa didaratkan harus punya panjang 3.000 meter

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertahanan mengungkapkan rencana membangun jalan tol multifungsi yang tidak hanya bisa digunakan sebagai akses transportasi di darat, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai landasan pacu. Rencana itu disampaikan usai sukses dilakukan uji coba pendaratan dua jenis jet tempur di Jalan Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung, Lampung pada Rabu (11/2/2026).

"Ke depannya, ini nanti kami akan melanjutkan (pendaratan jet tempur) tidak hanya di sini. Di beberapa tempat di Indonesia, kami akan bangun jalan tol yang juga dapat difungsikan sebagai runaway," ujar Donny pada Jumat (13/2/2026).

Ia menambahkan Kementerian Pertahanan sudah memiliki peta jalan atau roadmap di seluruh Indonesia terkait pembangunan jalan tol multifungsi tersebut.

"Kami sudah punya roadmap di seluruh Indonesia akan dibangun jalan tol atau mungkin jalan nasional yang memenuhi persyaratan, agar bisa kami fungsikan sebagai runaway," tutur dia.

1. Jalan yang multifungsi bisa jadi alternatif selain pendaratan di lanud

Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto di acara Indo Defence 2025. (www.instagram.com@kemhanri)

Ia menjelaskan, rencana tersebut merupakan bagian dari sistem pertahanan bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

"Sehingga kita menghendaki tiap pulau tersebut kita punya pangkalan-pangkalan yang cukup banyak. Sehingga kalau satu pangkalan diserang, kita masih punya alternatif yang cukup banyak," kata purnawirawan TNI Angkatan Udara (AU) itu.

Dalam uji coba pada Rabu kemarin ada dua alutsista udara yang berhasil melakukan uji coba pendaratan di ruas jalan tol. Pertama, pesawat EMB-314 Super Tucano dan kedua, F-16 Fighting Falcon. Selain disaksikan oleh Donny, Kepala Staf TNI Angkutan Udara, Marsekal Tonnt Harjono ikut hadir.

2. Pendaratan jet tempur di jalan tol menjadi tonggak sejarah baru

Pesawat tempur TNI Angkatan Udara (AU) berhasil melaksanakan uji coba pendaratan dan lepas landas di ruas Jalan Tol Terpeka Simpang Pematang, Lampung. (Dokumentasi TNI AU)

Donny turut menyebut keberhasilan uji coba pendaratan dua jet tempur menjadi tonggak sejarah baru di dunia dirgantara. Baru kali pertama TNI AU mendaratkan jet tempur di jalan tol.

"Ini merupakan tonggak penting dalam penguatan sistem pertahanan semesta yang berarti pertahanan negara bukan hanya menjadi tanggung jawab TNI tetapi juga melibatkan elemen bangsa. Uji coba itu menjadi salah satu wujud nyata pelaksanaan sistem pertahanan tersebut," katanya.

Ia menambahkan, selama uji coba jalan tol digunakan sebagai landasan pacu, maka ruas jalan tol tersebut terpaksa ditutup, sehingga masyarakat harus melewati jalan nasional yang lalu lintasnya berpeluang lebih macet. Donny menyebut, kerelaan itu juga merupakan perwujudan dari bela negara.

3. Jalan yang bisa didaratkan harus punya panjang 3.000 meter

Pesawat tempur TNI Angkatan Udara (AU) berhasil melaksanakan uji coba pendaratan dan lepas landas di ruas Jalan Tol Terpeka Simpang Pematang, Lampung. (Dokumentasi TNI AU)

Sementara, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Tonny Harjono berharap setiap provinsi di Indonesia memiliki satu tempat alternatif yang dapat difungsikan menjadi landasan pacu pesawat tempur.

Ia menjelaskan, ruas jalan yang dapat menjadi alternatif landasan pacu jet tempur adalah jalan yang memiliki panjang 3.000 meter.

Selain itu, terdapat aspek keamanan yang juga harus dipenuhi untuk menjadikan ruas jalan sebagai alternatif landasan pesawat tempur.

"Safety yang terpenting. Kemudian pengembangan ke depan nanti seperti apa? Kami masih akan pikirkan, apakah kami akan membuat perlengkapan penerbangan dan sebagainya. Tentunya itu masih memerlukan kajian yang mendalam," tutur jenderal bintang empat itu.

Editorial Team