Pemutaran dokumenter Roehana Koeddoes dalam acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Meski telah lebih dari satu abad sejak Roehana Koeddoes memperjuangkan ruang bagi perempuan di pers, Meutya menilai ketimpangan masih nyata. Berdasarkan catatan yang ada, jumlah jurnalis perempuan di Indonesia masih berkisar 25 persen.
“Kalau total jurnalis 250 ribu, maka perempuannya sekitar 62.500. Jadi menurut saya, PR kita untuk mengisi ruang-ruang informasi bagi perempuan itu masih belum pada fase yang cukup membuat kita bisa agak santai,” tegasnya.
Di sisi lain, Meutya menilai era digital seharusnya membuka peluang lebih besar bagi perempuan untuk berkarya. Namun, ia mengingatkan, kemudahan akses juga diiringi tantangan serius, terutama maraknya konten yang minim empati dan nilai.
“Sekarang ruangnya ada, fasilitasnya lebih mudah dengan digitalisasi, tapi persaingannya juga jadi jauh lebih ketat,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan kembali karya jurnalistik yang penuh rasa, empati, dan data, sejalan dengan nilai yang diperjuangkan Roehana Koeddoes sejak awal.
“Di tengah digitalisasi ini, peran perempuan menurut saya semakin menjadi lebih penting lagi,” kata Meutya.
"Itu juga menjadi tantangan dan challenge untuk kita bersama. Terutama, karena dengan digitalisasi yang mengutamakan kecepatan di berbagai sektor informasi, tulisan, kepekaan itu tuh agak hilang terasa dari tulisan-tulisan," sambungnya.
Menutup pernyataannya, Meutya berharap semangat Roehana Koeddoes terus hidup dan menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan di dunia pers belum usai.
“Mari kita lengkapkan lagi upaya-upaya kita, genapkan ikhtiar-ikhtiar kita, untuk meneruskan terus dari semangat-semangat yang telah dilakukan dan juga dipelopori oleh Ibu Roehana Koeddoes,” imbuh dia.
Adapun acara ini diselingi dengan pemutaran film dokumenter singkat mengenai perjuangan Roehana Koeddoes. Sesi diskusi dipandu langsung oleh Pemred IDN Times, Uni Lubis, dengan sejumlah pembicara di antaranya Co-Funder Narasi, Najwa Shihab; Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat; Ketua Umum FJPI, Khairiah Lubis; Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu; dan Ketua AMSI, Wahyu Dyatmika.