Ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama)
Penetapan angka minimal 20 persen dilatarbelakangi oleh kebutuhan besar sektor pendidikan yang sebelumnya dinilai kurang mendapat perhatian anggaran. Minimnya pendanaan dianggap sebagai salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan di masa lalu.
Melalui alokasi ini, negara diharapkan mampu menjamin akses pendidikan bagi seluruh warga negara; membiayai pendidikan dasar secara gratis; meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan fasilitas; serta mendorong pemerataan pendidikan di seluruh daerah.
Konstitusi bahkan menegaskan bahwa negara wajib membiayai pendidikan dasar sebagai prioritas utama dalam sistem pendidikan nasional.
Meski demikian, implementasi di lapangan tidak selalu mulus. Sejumlah kritik muncul, misalnya terkait komposisi anggaran yang didominasi belanja pegawai atau perdebatan soal pos apa saja yang boleh dihitung sebagai anggaran pendidikan. Belum lagi adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memotek pos anggaran pendidikan pada APBN.
Di sisi lain, muncul juga polemik ketika alokasi pendidikan dianggap tidak mencapai 20 persen secara riil, meski secara administratif terlihat memenuhi ketentuan.