Ilustrasi Swab Test. (ANTARAFOTO/Basri Marzuki)
Kejadian ini berawal ketika Richo pulang dinas dari Sulawesi Tengah pada Jumat, 4 Desember 2020. Kala itu, dia dinyatakan negatif COVID-19 berdasarkan hasil tes swab PCR. Ia pun memberanikan diri pulang ke rumah.
Pada Senin, 7 Desember 2020, Richo bekerja seperti biasa di kantor. Lalu, pada Rabu, 9 Desember 2020, ia bekerja dari rumah karena ada Pilkada Serentak. Sehari berikutnya, Kamis, 10 Desember 2020, dia flu berat disertai batuk ringan tanpa demam.
Mengetahui hal itu, Richo mengubah formasi tidur bersama keluarga. Dia tidur sendiri, sedangkan anak, istri, dan ibu mertua tidur bersama di kamar lain. Namun, pada Jumat, 11 Desember 2020, anaknya demam dengan suhu badan 37 derajat celcius. Suhu meningkat menjadi 38 derajat celcius pada Sabtu, 12 Desember 2020.
Alhasil, mereka semua melakukan tes swab PCR di salah satu laboratorium drive thru di kawasan Jakarta Selatan. Hasil tes baru muncul pada Minggu, 13 Desember 2020 dini hari, sedang Richo baru tertidur pada pukul 01.00 WIB.
"Baru nyenyak, pintu kamar terbuka keras. 'Gimana hasil kamu? Aku positif!' kata istri. Jam baru menunjukkan pukul 3 pagi. Kaget betul, ngecek email dalam kondisi belum sadar," kata Richo.
"Istri dan ibu gabung 1 email. Ibu mertua negatif. Anak ikut email saya. Dan, saya negatif tapi anak positif. Hancur betul hati saya. Kacau balau rasanya," sambungnya.