Proses lepasliar dua ekor kukang di kawasan hutan konservasi Cagar Alam Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Doc.Idn Times
Nayla menilai konservasi di Indonesia cukup male-dominated atau didominasi laki-laki. Ia mengaku sering menjadi perempuan yang sendiri dalam sebuah gerakan konservasi.
“Saya merasa, sering merasa tidak aman. Dengan mungkin terjadi beberapa sexism atau mungkin pelecehan seksual yang saya dapatkan secara verbal, hal-hal yang seperti itu terkadang akhirnya, menghilangkan makna saya sebagai perempuan. Misalnya, ketika ada pembicaraan, hal yang contoh misalnya ‘aduh, ini nih kita dapat karyawan perempuan baru lagi nih'. Lalu, saya katakan ’bagus dong’, lalu mereka mengatakan ‘aduh susah kalau perempuan', saya katakan, ‘kenapa? Saya perempuan, saya bekerja dengan kalian, apa masalahnya?" ucap Nayla.
"Lalu mereka mengatakan ‘kamu gak perempuan’. Dalam artian, saya dihilangkan makna perempuannya sebagai perempuan karena saya mampu untuk sama kuatnya dengan laki-laki. Jadi, saya tidak dianggap feminim,” terusnya.
Nayla pun merasa menyalahi karakter perempuan yang harusnya penurut dan feminim. Di konservasi itu, perempuan biasanya bekerja pada bagian administrasi, jarang sekali ada yang menghabiskan waktu berminggu-minggu di hutan.
“Menurut pengalaman saya, hampir 10 tahun saya bekerja di konservasi, banyak PR kita bersama, bukan berarti tidak banyak juga terjadi perubahan yang baik, tapi memang kembali lagi kita berbicara konservasi itu terkoneksi dengan sesuatu yang holistik, termasuk peran perempuan itu sendiri,” kata Nayla.