Jakarta, IDN Times - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akhirnya mengungkap penyebab tragedi tabrakan maut KRL (Commuter Line) dan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026. Dalam tragedi ini, korban meninggal dunia mencapai 16 orang dan 90 lainnya terluka.
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjanto, mengungkap kendala pertama adalah masalah persinyalan. Masinis KA Argo Bromo Anggrek tidak bisa melihat sinyal bantu, karena terdistraksi lampu perumahan dan pasar di sekitar jalur kereta.
"Pertama, sinyal bantu tadi yang terdistraksi dengan lampu-lampu sekitarnya. Kalau masinis bisa melihat sinyal bantu dengan baik, itu juga jaraknya sekitar dari tabrakan itu dari dengan penampakan 200 meter di muka sinyal bantu itu juga bisa membantu menghindari kecelakaan tersebut," ungkap Soerjanto dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
"Karena ada distraction, maka si masinis dan asisten masinis tidak bisa melihat, dan artinya di sini ada gangguan di sinyal UB tadi," sambung Soerjanto.
Kedua, Soerjanto menjelaskan, masalah terkait jeda komunikasi dari Pusat Pengendali Perjalanan Kereta Api (PK). KRL melaporkan adanya tabrakan KRL dengan taksi hijau ke pihak stasiun dan PK Selatan. Namun, KA Argo Bromo Anggrek berada di PK Timur.
"Kedua, memang ketika diberikan komunikasi dari PK Timur itu ada jeda, karena ada pertama dari Commuter Line yang melaporkan terjadi tabrakan itu ke stasiun, ke pengendali selatan, Pak. Ini juga, sementara yang Argo Bromo Anggrek ini kan ada di pengendali Timur, Pak. Iya, itu dua, dua orang pengendali yang berbeda," kata dia.
KNKT berkesimpulan, ada masalah jeda waktu komunikasi antara kereta KRL ke ke KA Argo Bromo Anggrek. KNKT merekomendasikan agar sistem komunikasi perlu diperbaiki.
"Iya. Ini ada jeda waktu juga. Jadi di sini eh salah satu hal untuk menanggulangi kecelakaan ini adalah sistem komunikasi juga harus diperbaiki," kata Soerjanto.
Dalam kesempatan itu, KNKT juga memaparkan persoalan keruwetan komunikasi antara KRL Commuter Line dengan kereta jarak jauh. KRL yang berada di Bekasi dilakukan PK Selatan. Sementara, proses penyampaian informasi cukup panjang untuk sampai ke PK Timur.
"Nah, ini yang membikin jeda agak terlalu lama karena PK Selatan harus memberitahu kepada Chief, Chief memberitahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya. Ini yang juga perlu ada perbaikan, Pak," kata Soerjanto.
Oleh karena itu, KNKT berkesimpulan dua pemicu tabrakan KRL dan KA Argo Bromo, karena masalah gangguan sinyal dan masalah jeda jalur komunikasi yang panjang.
"Jadi salah satu penyebabnya adalah selain tadi ada beberapa masalah sinyal di Bekasi yang tidak bisa mendeteksi adanya 5568 di Bekasi Timur, itu juga ada satu kondisi yang unsafe condition, di kondisi itu, Pak. Selain itu juga ada gangguan distraksi sinyal ulang yang ada lampu-lampu dari sekitarnya pasar dan perumahan di sekitar sinyal tersebut. Ketiga adalah masalah komunikasi," kata Soerjanto.
