Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lao Ode Sebut Dapat Restu dari Bahlil Maju Jadi Ketum Kosgoro 1957
La Ode Safiul Akbar mendeklarasikan diri maju sebagai calon Ketua Umum Pimpinan Pusat PPK Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 (dok. Istimewa)
  • La Ode Safiul Akbar resmi mendeklarasikan diri maju sebagai calon Ketua Umum Kosgoro 1957 dengan restu dari Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.
  • Ia menegaskan tekad mengembalikan Kosgoro 1957 sebagai organisasi karya yang dekat dengan rakyat melalui penguatan ekonomi kerakyatan dan semangat gotong royong.
  • La Ode juga menyoroti pentingnya kaderisasi agar Kosgoro 1957 melahirkan generasi berintegritas, profesional, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - La Ode Safiul Akbar mendeklarasikan diri maju sebagai calon Ketua Umum Pimpinan Pusat PPK Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957. Kosgoro adalah salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) pendiri Partai Golkar.

Dalam deklarasinya pada Minggu (24/5/2026), La Ode menegaskan ingin mengembalikan Kosgoro 1957 sebagai organisasi karya yang dekat dengan rakyat dan berperan nyata dalam pemberdayaan ekonomi.

Tak hanya bicara soal pencalonan, La Ode juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali semangat perjuangan Kosgoro 1957 di tengah tantangan zaman, mulai dari disrupsi teknologi hingga ketimpangan ekonomi. Ia bahkan mengaku sudah mendapat restu dari Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.

“Ketum Bahlil sudah merestui saya maju jadi Ketum Kosgoro,” jelas La Ode.

1. La Ode ingin Kosgoro kembali jadi akar pergerakan Golkar

La Ode Safiul Akbar mendeklarasikan diri maju sebagai calon Ketua Umum Pimpinan Pusat PPK Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 (dok. Istimewa)

Dalam pidatonya, La Ode menyebut organisasi besar tidak boleh tercerabut dari akar sejarah dan nilai perjuangannya. Menurut dia, Kosgoro 1957 harus kembali menjadi kekuatan sosial yang mampu melahirkan karya nyata untuk masyarakat.

Ia menilai tantangan global saat ini, seperti kompetisi ekonomi, perubahan sosial yang cepat, hingga krisis kaderisasi, harus dijawab dengan penguatan organisasi dan pengelolaan sumber daya manusia yang adaptif. La Ode juga menekankan pentingnya menghidupkan semangat gotong royong di tengah menguatnya individualisme masyarakat.

“Di tengah individualisme yang menguat, hidupkan etos gotong royong. Di tengah fragmentasi sosial, rumuskan tantangan dan harapan bersama hingga terjalin kesatuan,” ujar La Ode.

2. La Ode sebut Kosgoro 1957 harus ikut memberdayakan ekonomi

La Ode Safiul Akbar mendeklarasikan diri maju sebagai calon Ketua Umum Pimpinan Pusat PPK Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 (dok. Istimewa)

La Ode menegaskan Kosgoro 1957 tidak boleh hanya aktif di ruang-ruang rapat organisasi. Menurutnya, organisasi harus hadir langsung di tengah masyarakat melalui program pemberdayaan ekonomi. Ia mengatakan Kosgoro perlu mengambil peran dalam penguatan UMKM, koperasi modern, hingga literasi digital ekonomi untuk masyarakat kecil.

“Organisasi ini tidak boleh hanya hidup di ruang rapat. Ia harus hidup di pasar-pasar rakyat, di sentra usaha, di desa-desa produktif, dan di ruang-ruang inovasi anak muda Indonesia,” katanya.

Visi tersebut, lanjut La Ode, menjadi bagian dari upaya membumikan kembali nilai perjuangan Kosgoro 1957 sebagai penggerak ekonomi kerakyatan dan lokomotif karya di tubuh Partai Golkar.

3. Siapkan kader unggul

La Ode Safiul Akbar mendeklarasikan diri maju sebagai calon Ketua Umum Pimpinan Pusat PPK Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 (dok. Istimewa)

Selain ekonomi kerakyatan, La Ode juga menyoroti pentingnya kaderisasi. Ia ingin Kosgoro 1957 menjadi tempat lahirnya kader yang memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, dan kompetensi profesional. Menurutnya, kepemimpinan organisasi tidak boleh hanya fokus mengelola situasi saat ini, tetapi juga harus menyiapkan generasi penerus yang mampu menghadapi tantangan masa depan.

Dalam orasinya, La Ode menegaskan kekuatan Golkar ke depan sangat ditentukan oleh seberapa kuat organisasi akar seperti Kosgoro 1957 menyentuh kehidupan masyarakat.

“Kosgoro 1957 tidak boleh hanya bisa ditemukan dalam ingatan sejarah, tapi organisasi yang hadir dalam kehidupan. Menjadi rumah besar karya, tempat lahir dan tumbuhnya kader yang berpikiran besar, bekerja nyata, dan berjuang untuk Indonesia,” tuturnya.

Editorial Team