Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD mengatakan sejumlah orang yang loyal terhadap Irjen (Pol) Ferdy Sambo berusaha menyembunyikan kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J dari Kapolri. Itu sebabnya pengusutan kasusnya di awal berjalan lambat. Polri baru mengumumkan tersangka pertama yakni Bharada Richard Eliezer, 25 hari usai Brigadir J tewas dibunuh.
"Dalam kasus Sambo ini disembunyikan dari Kapolri oleh orang-orangnya (geng) Sambo sehingga Kapolri agak terasa lambat. Tapi, kemudian dia kan responsif terhadap isu-isu dari luar," ungkap Mahfud ketika berbicara di program siniar Faisal Akbar yang dikutip dari YouTube, Jumat, (19/8/2022).
Bahkan, Mahfud pun tak menampik ada faksi-faksi tertentu di Polri sehingga menyebabkan Kapolri kesulitan dalam menuntaskan masalah. "Kan ada kelompok Brimob, Bareskrim, Div Propam, yang itu tidak sepenuhnya (menyatu). Ya, mungkin karena bidang tugasnya tidak saling mengkomunikasikan agar sinergis dan dalam satu payung namanya kepolisian," tutur dia.
Mahfud juga menyebut kelompok tersebut lalu didukung oleh faksi lain yang memiliki kepentingan serupa. "Itu rame lah kalau di Polri," ujarnya lagi.
Di sisi lain, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu turut menyoroti posisi Sambo sebagai Kadiv Propam yang sangat berkuasa. Posisinya dulu memungkinkannya mengetahui catatan pelanggaran etik dan pidana yang dilakukan oleh semua personel Polri di Indonesia.
Mengapa Sambo bisa begitu berkuasa? Apa rekomendasi dari Mahfud agar ada reformasi di internal kepolisian?
