Comscore Tracker

Wakil Ketua KPK: Koruptor Rata-Rata Punya Pendidikan Tinggi

"Karena korupsi terjadi di lingkungan kekuasaan."

Medan, IDN Times - Korupsi adalah tindak kejahatan yang serius dan merugikan banyak pihak. Perbuatan itu merusak ekonomi, proses demokrasi, meruntuhkan tatanan hukum, melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), dan menurunkan kualitas hidup. Warga yang paling terdampak dari korupsi datang dari kelompok orang miskin. 

"Oleh karena itu korupsi harus dijadikan musuh bersama," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif saat berkunjung ke Universitas HKBP Nommensen Medan pada Kamis (12/12) lalu. 

Namun, fakta yang unik menunjukkan perbuatan itu justru dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi. Dari data yang dimiliki oleh komisi antirasuah koruptor datang dari individu yang memiliki latar belakang pendidikan magister. Wah, lalu bagaimana pihak universitas turut berkontribusi untuk menurunkan hal itu ya?

1. Syarif menilai KPK seharusnya belajar ke perguruan tinggi untuk mencari solusi terbaik menghadapi korupsi di Indonesia

Wakil Ketua KPK: Koruptor Rata-Rata Punya Pendidikan Tinggi(Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif tengah bersiap mengikuti ujian psikotest di Pusdiklat) ANTARA FOTO/Wahyu Putro A.

Sebelum duduk sebagai Wakil Ketua KPK, Syarif juga pernah menjadi pengajar di Universitas Hasanuddin. Di Medan, ia menjadi pembicara dalam agenda kuliah umum yang mengangkat tema "Peran Perguruan Tinggi Dalam Pemberantasan Korupsi." Dalam pandangan Syarif, justru KPK harus belajar ke perguruan tinggi dan organisasi keagamaan untuk mencari solusi terbaik penanganan korupsi di Indonesia.

"Saya selalu tidak nyaman menjelaskan apa itu antikorupsi. Seharusnya KPK yang datang ke perguruan tinggi dan organisasi keagamaan untuk belajar mengenai antikorupsi," ujar Syarif.

Baca Juga: Ketua KPK: Mahasiswa Jangan Biasakan Nitip Absen dan Jadi Plagiator

2. Wakil Ketua KPK menilai korupsi merupakan akar dari semua tindak kejahatan

Wakil Ketua KPK: Koruptor Rata-Rata Punya Pendidikan Tinggi(Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dan Laode M Syarif tengah mengumumkan tersangka baru BLBI) ANTARA FOTO/Reno Esnir

Menurut Syarif, seharusnya organisasi yang bisa ikut berkontribusi untuk mencegah korupsi adalah organisasi keagamaan. Agama, kata dia, seharusnya bisa menjadi benteng agar orang bisa berpikir dua kali sebelum korupsi. 

Ia kemudian mengutip ayat dari Alkitab, Amsal 1:7 yang terpampang di pintu masuk Gedung Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen. Ayat itu berisi tulisan bahwa korupsi bukan cuma jahat. Tapi jauh lebih jahat dari kejahatan-kejahatan lainnya.

"Saya berdiri, saya melihat tulisan itu, dari Amsal. Saya kira di situ semua sudah jelas. Kitab-kitab agama lainnya juga ada menjelaskan ini," kata dia lagi. 

3. Syarif mengajak akademisi dan semua elemen di pemerintahan lebih sadar mengenai perbuatan korupsi

Wakil Ketua KPK: Koruptor Rata-Rata Punya Pendidikan Tinggi(Jaksa Agung ST Burhanuddin dan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif) ANTARA FOTO/Reno Esnir

Syarif mengatakan dalam bertugas memberantas korupsi, KPK memiliki keterbatasan. Apalagi dengan adanya undang-undang baru, komisi antirasuah kesulitan untuk membuka kantor perwakilan di daerah. Namun, KPK dibebankan tanggung jawab untuk menangani korupsi dari Aceh hingga Papua. 

"Keterbatasan tersebut, membuat KPK kesulitan mengawasi setiap lika-liku proyek negara," ujar Syarif. 

Oleh sebab itu, ia mengajak setiap elemen pemerintahan dan akademisi meningkatkan kesadaran mengenai perbuatan korupsi. 

4. Para koruptor yang merugikan keuangan negara rata-rata berstatus pekerja profesional dan memiliki pendidikan yang tinggi

Wakil Ketua KPK: Koruptor Rata-Rata Punya Pendidikan TinggiIDN Times/Aldzah Fatimah Aditya

Uniknya menurut Syarif, para koruptor yang diproses oleh komisi antirasuah dan telah merugikan keuangan negara rata-rata merupakan pekerja profesional dan berasal dari kalangan terdidik. 

"Mayoritas koruptor itu (pendidikannya) magister. Nah, kenapa? Karena korupsi selalu di lingkungan orang-orang dengan kekuasaan," tutur dia. 

Biasanya orang-orang yang memiliki akses ke kekuasaan adalah mereka dengan pendidikan tinggi dan berasal dari kalangan elit. 

5. Syarif mengajak agar mahasiswa dan akademisi membiasakan hidup jujur dan disiplin

Wakil Ketua KPK: Koruptor Rata-Rata Punya Pendidikan TinggiLima pimpinan KPK foto bersama dengan Presiden Joko Widodo di Hakordia 2018. (Twitter.com/@LaodeMSyarif)

Oleh sebab itu, Syarif menilai mahasiswa dan akademisi kampus menjadi harapan bagi Indonesia ke depan yang lebih baik. Ia pun mendorong agar akademisi dan mahasiswa untuk menerapkan nilai-nilai antikorupsi. Dua di antaranya yakni hidup jujur dan disiplin. 

"Sulit dibayangkan, bila mahasiswa yang titip absen, korupsi logistik oleh aktivis mahasiswa setiap kegiatan, atau dosen yang menjual modul pembelajaran hingga akreditasi kampus yang tidak sesuai, maka hal itu berbahaya bagi pemimpin negara di masa depan," katanya.

6. Rektor HKBP Nommensen Medan berharap bisa membuat pusat studi korupsi

Wakil Ketua KPK: Koruptor Rata-Rata Punya Pendidikan TinggiLaode M Syarif, Wakil Ketua KPK saat berkunjung ke Universitas HKBP Nommensen Medan, Kamis (12/12). (IDN Times/Masdalena Napitupulu)

Sementara, Rektor Universitas HKBP Nommensen, Haposan Siallagan meminta mahasiswa agar mencermati apa yang disampaikan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif. Apa yang disampaikan oleh Syarif, kata Haposan, sejalan dengan cita-cita rektorat Universitas HKBP Nommensen.

"Karena kita akan menghadirkan pusat studi Korupsi di Universitas HKBP Nommensen," ujarnya. 

Baca Juga: Ketua KPK Akui Pelaku Korupsi Usianya Makin Belia

Topic:

  • Santi Dewi

Just For You