Dua butir peluru dengan ukiran wajah manusia dan inskripsi lafal "Allah" serta angka 9. Konon peluru dengan nama Pelor Kombeng peninggalan di Jawa Timur ini memiliki kekuatan menumbangkan lawan, dengan syarat menembakkan peluru sambil mengucapkan kata "Allah" sebanyak sembilan kali - Pameran peninggalan sejarah bertajuk "Melawan Tanpa Gentar" di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2025) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Jimat bernama Bate Pira yang ditemukan di tempat persembunyian pahlawan perempuan legendaris, Cut Nyak Dien pada 1905 - Pameran peninggalan sejarah bertajuk "Melawan Tanpa Gentar" di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2025) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Memasuki ruang pameran, pengunjung langsung disambut deretan jimat hingga panji yang pernah digunakan para pejuang. Salah satu yang menarik perhatian adalah jimat segel milik Teungku Chik di Tiro.
Tokoh ini dikenal sebagai ulama sekaligus pemimpin perlawanan di Aceh. Ia membuat stempel berbentuk sandal Nabi Muhammad SAW yang dicetak di atas kertas untuk masyarakat yang meminta berkah. Stempel ini menjadi satu-satunya di Asia Tenggara dengan bentuk unik tersebut.
Setelah ia wafat pada 1891, stempel itu diwariskan dan digunakan oleh penerusnya dalam perjuangan melawan Belanda. Namun, pada 1904, stempel tersebut dirampas oleh tentara kolonial Belanda saat penyerbuan.
Ada pula, jimat bernama Bate Pira yang ditemukan di tempat persembunyian pahlawan perempuan legendaris, Cut Nyak Dien pada 1905. Jimat ini dipercaya berfungsi sebagai pelindung dari bahaya.
Selain itu, terdapat segel jimat lain yang memuat nama-nama tokoh penting dalam Islam seperti Muhammad, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, dengan tulisan “Allah” di bagian tengah. Jimat tersebut ditemukan oleh Snouck Hurgronje pada akhir abad ke-19.
Ada pula dua butir peluru dengan ukiran wajah manusia dan inskripsi lafal "Allah" serta angka 9. Konon peluru dengan nama Pelor Kombeng peninggalan di Jawa Timur ini memiliki kekuatan menumbangkan lawan, dengan syarat menembakkan peluru sambil mengucapkan kata "Allah" sebanyak sembilan kali.
Bagi para pejuang, jimat bukan sekadar benda, melainkan sumber keberanian yang membuat mereka yakin mampu menghadapi peluru dan ancaman penjajah.