Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Melihat Perjuangan Bangsa dari Jimat Milik Pejuang di Museum Nasional
Pameran peninggalan sejarah bertajuk "Melawan Tanpa Gentar" di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2025) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Pameran 'Melawan Tanpa Gentar' di Museum Nasional menyoroti sisi spiritual perjuangan bangsa, menampilkan keyakinan dan kekuatan batin para pejuang dalam melawan penjajahan.
  • Beragam jimat milik tokoh seperti Teungku Chik di Tiro dan Cut Nyak Dien dipamerkan, menggambarkan peran benda-benda sakral sebagai sumber keberanian dan simbol perlindungan.
  • Panji-panji dari Kesultanan Banten dan Aceh menunjukkan identitas serta semangat perlawanan, menjadi bukti bahwa perjuangan kemerdekaan juga berakar pada nilai spiritual dan pengorbanan mendalam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
awal abad ke-16

Perjuangan melawan kolonialisme berlangsung sejak era kedatangan Portugis. Perlawanan awal masih bersifat lokal dan belum terkoordinasi antardaerah.

akhir abad ke-19

Snouck Hurgronje menemukan segel jimat yang memuat nama tokoh-tokoh penting Islam dan tulisan “Allah” di bagian tengah.

1891

Teungku Chik di Tiro wafat. Stempel berbentuk sandal Nabi Muhammad SAW miliknya diwariskan dan digunakan penerusnya dalam perjuangan melawan Belanda.

1901

Panji Kesultanan Aceh Darussalam yang memiliki bekas bercak darah diperoleh dari pertempuran di Batee Iliek, Samalanga, Bireuen saat Perang Sabil.

1904

Stempel jimat milik Teungku Chik di Tiro dirampas tentara kolonial Belanda saat penyerbuan.

1905

Jimat Bate Pira ditemukan di tempat persembunyian Cut Nyak Dien. Jimat itu dipercaya berfungsi sebagai pelindung dari bahaya.

pertengahan abad ke-20

Perjuangan melawan kolonialisme berlanjut hingga masa kedatangan Belanda dalam berbagai bentuk.

Jumat (27/3/2026)

IDN Times melihat pameran “Melawan Tanpa Gentar” di Museum Nasional. Pameran menampilkan jimat dan panji untuk mengungkap dimensi spiritual perjuangan bangsa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pameran “Melawan Tanpa Gentar” menampilkan jimat, segel, peluru, dan panji yang digunakan pejuang Indonesia, termasuk benda-benda yang dikaitkan dengan keyakinan spiritual dalam perlawanan terhadap kolonialisme.
  • Who?
    Museum Nasional menampilkan koleksi yang terkait dengan Teungku Chik di Tiro, Cut Nyak Dien, pejuang Kesultanan Banten, dan Kesultanan Aceh Darussalam.
  • Where?
    Pameran berlangsung di Museum Nasional, Jakarta.
  • When?
    Pameran dilihat pada Jumat, 27 Maret 2026. Koleksinya berasal dari berbagai periode, termasuk akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
  • Why?
    Pameran menghadirkan dimensi spiritual perjuangan, ketika jimat, doa, rajah, dan panji dipercaya pejuang sebagai pelindung serta penguat keberanian melawan penjajahan.
  • How?
    Pengunjung dapat melihat benda koleksi di ruang pameran, termasuk segel sandal Nabi milik Teungku Chik di Tiro, Bate Pira, Pelor Kombeng, serta panji Banten dan Aceh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Museum Nasional ada pameran tentang pejuang Indonesia. Mereka melawan penjajah dengan senjata, doa, dan jimat. Ada jimat Teungku Chik di Tiro, Cut Nyak Dien, serta panji dari Aceh dan Banten. Benda-benda itu sekarang disimpan di museum. Pengunjung bisa melihat semangat pejuang yang ingin Indonesia bebas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pameran “Melawan Tanpa Gentar” memberi ruang bagi pengunjung untuk menghargai keteguhan pejuang dari sudut yang lebih manusiawi. Jimat, doa, dan panji memperlihatkan bagaimana keyakinan spiritual turut menumbuhkan keberanian, identitas, serta harapan dalam menghadapi tekanan kolonial, sementara benda-benda bersejarah itu menjaga kisah pengorbanan tetap terasa dekat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Di balik gemerlap koleksi sejarah di Museum Nasional, tersimpan kisah yang tak selalu tertulis dalam buku pelajaran. Bukan hanya tentang senjata dan strategi perang, tetapi juga tentang keyakinan—tentang jimat, doa, dan kekuatan batin yang menyertai langkah panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Sejak awal abad ke-16 di era kedatangan Portugis hingga pertengahan abad ke-20 saat Belanda tiba, perjuangan melawan kolonialisme berlangsung dalam berbagai bentuk. Pada masa awal, perlawanan masih bersifat lokal dan belum terkoordinasi antardaerah. Namun, semangatnya sama, menolak tunduk pada penjajahan yang merendahkan martabat rakyat dan tatanan kehidupan.

1. Pameran mengungkap sisi spiritual perjuangan

Jimat segel milik Teungku Chik di Tiro - Pameran peninggalan sejarah bertajuk "Melawan Tanpa Gentar" di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2025) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Semangat kemerdekaan yang tak hanya bertumpu pada kekuatan fisik dihadirkan lewat pameran bertajuk "Melawan Tanpa Gentar". IDN Times berkesempatan melihat langsung pada Jumat (27/3/2026). Pameran ini mengajak pengunjung melihat sisi lain dari perjuangan bangsa—yang sering kali luput dari sorotan sejarah arus utama.

Di berbagai wilayah, perlawanan dipimpin oleh penguasa lokal, tokoh adat, hingga pemimpin agama. Mereka bangkit bukan hanya karena tekanan politik dan ekonomi, tetapi juga karena ancaman terhadap kehormatan dan ketenteraman hidup. Gelombang perlawanan ini menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia tidak pernah benar-benar rela dijajah.

Menariknya, pameran ini juga menyoroti dimensi spiritual yang melekat dalam perjuangan. Banyak pejuang meyakini bahwa kekuatan tidak hanya berasal dari senjata, tetapi juga dari kedekatan dengan Tuhan. Jimat, doa, dan praktik kebatinan menjadi bagian penting yang membangun keberanian di medan perang.

Benda-benda yang kini tersimpan rapi di balik kaca museum mungkin tampak sederhana. Namun di masa lalu, ia adalah simbol harapan, pelindung, sekaligus penguat tekad dalam menghadapi penjajah.

2. Jimat para pejuang dan kisah di baliknya

Dua butir peluru dengan ukiran wajah manusia dan inskripsi lafal "Allah" serta angka 9. Konon peluru dengan nama Pelor Kombeng peninggalan di Jawa Timur ini memiliki kekuatan menumbangkan lawan, dengan syarat menembakkan peluru sambil mengucapkan kata "Allah" sebanyak sembilan kali - Pameran peninggalan sejarah bertajuk "Melawan Tanpa Gentar" di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2025) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Jimat bernama Bate Pira yang ditemukan di tempat persembunyian pahlawan perempuan legendaris, Cut Nyak Dien pada 1905 - Pameran peninggalan sejarah bertajuk "Melawan Tanpa Gentar" di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2025) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Memasuki ruang pameran, pengunjung langsung disambut deretan jimat hingga panji yang pernah digunakan para pejuang. Salah satu yang menarik perhatian adalah jimat segel milik Teungku Chik di Tiro.

Tokoh ini dikenal sebagai ulama sekaligus pemimpin perlawanan di Aceh. Ia membuat stempel berbentuk sandal Nabi Muhammad SAW yang dicetak di atas kertas untuk masyarakat yang meminta berkah. Stempel ini menjadi satu-satunya di Asia Tenggara dengan bentuk unik tersebut.

Setelah ia wafat pada 1891, stempel itu diwariskan dan digunakan oleh penerusnya dalam perjuangan melawan Belanda. Namun, pada 1904, stempel tersebut dirampas oleh tentara kolonial Belanda saat penyerbuan.

Ada pula, jimat bernama Bate Pira yang ditemukan di tempat persembunyian pahlawan perempuan legendaris, Cut Nyak Dien pada 1905. Jimat ini dipercaya berfungsi sebagai pelindung dari bahaya.

Selain itu, terdapat segel jimat lain yang memuat nama-nama tokoh penting dalam Islam seperti Muhammad, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, dengan tulisan “Allah” di bagian tengah. Jimat tersebut ditemukan oleh Snouck Hurgronje pada akhir abad ke-19.

Ada pula dua butir peluru dengan ukiran wajah manusia dan inskripsi lafal "Allah" serta angka 9. Konon peluru dengan nama Pelor Kombeng peninggalan di Jawa Timur ini memiliki kekuatan menumbangkan lawan, dengan syarat menembakkan peluru sambil mengucapkan kata "Allah" sebanyak sembilan kali.

Bagi para pejuang, jimat bukan sekadar benda, melainkan sumber keberanian yang membuat mereka yakin mampu menghadapi peluru dan ancaman penjajah.

3. Panji sebagai simbol identitas dan perlawanan

Panji dari Kesultanan Banten yang sarat makna - Pameran peninggalan sejarah bertajuk "Melawan Tanpa Gentar" di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2025) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Tak hanya jimat, pameran ini juga menampilkan panji dari Kesultanan Banten yang sarat makna. Panji tersebut dihiasi inskripsi Arab berupa doa, puji-pujian, dan rajah yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual.

Dalam konteks sejarah, panji bukan sekadar bendera. Ia menjadi simbol identitas, penanda wilayah kekuasaan, sekaligus pengobar semangat pasukan saat berperang. Ketika dibawa dalam iring-iringan kerajaan, panji juga dipercaya mampu menolak bala.

Di bagian lain terdapat bendera Kesultanan Aceh Darussalam dengan motif pedang, bulan sabit, dan bintang yang mencerminkan identitas kekuatan Islam. Bagian belakang terdapat inskripsi Arab berisi doa, puji, serta stempel "Teungku Cik Di Tiro". Panji dengan bekas bercak darah saat Perang Sabil ini diperoleh dari pertempuran di Batee Iliek, Samalanga, Bireun pada 1901.

Jejak tersebut menjadi pengingat nyata bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya soal strategi, tetapi juga pengorbanan yang tak sedikit.

Melalui pameran ini, pengunjung diajak memahami bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun dari banyak lapisan—fisik, mental, hingga spiritual. Dari jimat yang digenggam erat hingga doa yang dipanjatkan dalam diam, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju kebebasan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article