Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Misteri Data Smartwatch Kopilot ATR, Basarnas: Bukan Lokasi TerkinI
Kepala Basarnas RI Marsekal Madya (Marsdya) TNI Mohammad Syafii saat mendampingi Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi meninjau Pos AJU di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Senin (19/1/2026). IDN Times / Darsil Yahya

Intinya sih...

  • Basarnas berharap masih ada korban selamat dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan.

  • Proses evakuasi dua korban yang telah ditemukan masih berlangsung, dengan kendala utama berasal dari kondisi medan pegunungan serta cuaca yang tidak mendukung.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI M. Syafi’i memberikan penjelasan mengenai informasi yang sempat beredar terkait pergerakan langkah kaki yang terdeteksi pada smartwatch kopilot pesawat ATR 42-500 yang jatuh di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, Farhan Gunawan. Syafi’i memastikan hal tersebut telah diklarifikasi.

Basarnas bekerja sama dengan Polda Sulawesi Selatan untuk menelusuri data tersebut. Hasilnya, rekaman pergerakan langkah kaki yang dimaksud ternyata berasal dari beberapa bulan sebelumnya, saat korban masih berada di Yogyakarta. Klarifikasi ini telah disampaikan kepada pihak keluarga.

"Setelah dibuka, ternyata rekaman tersebut berasal dari beberapa bulan yang lalu, saat korban masih berada di Jogja, dan hal ini sudah diklarifikasi tadi pagi," ujar Syafi’i di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

1. Basarnas berharap masih ada korban selamat

TNI Angkatan Udara kembali mengerahkan helikopter H225M Caracal untuk melanjutkan proses evakuasi pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Senin (19/1/2026) (dok. Dispenau)

Dia menyampaikan, hingga hari keempat operasi pencarian, belum ditemukan korban selamat dalam peristiwa jatuhnya kopilot pesawat ATR 42-500. Meski demikian, Basarnas tetap melanjutkan operasi SAR dan berharap masih ada kemungkinan korban ditemukan dalam kondisi hidup.

“Saya sampaikan, kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup,” katanya.

2. Pernah ada korban selamat dalam kecelakaan pesawat

Tim SAR gabungan masih berupaya mengevakusi korban pesawat ATR 42-500 dari lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep, Selasa (20/1/2026) (Dok. Basarnas Sulsel).

Syafi’i mengatakan, harapan tersebut lantaran ada pengalaman kecelakaan pesawat di masa lalu, di mana terdapat korban selamat meski kondisi pesawat hancur.

“Karena pernah itu kejadian ada pesawat crash, kemudian kondisinya sama, terburai pesawatnya, tapi ternyata ada penumpang yang terlempar, kemudian mati suri, beberapa hari ditemukan dalam kondisi hidup,” ujarnya.

3.Proses evakuasi dua korban yang telah ditemukan masih berlangsung

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, meninjau Posko Advance Jungle Unit (AJU) di Desa Tompo Bulu, Pangkep, untuk memantau dan mengkoordinasikan operasi pencarian korban pesawat ATR 42-500, Senin (19/1/2026). (Dok. Pemprov Sulsel)

Syafi’i menjelaskan, proses evakuasi dua korban yang telah ditemukan masih berlangsung. Kendala utama di lapangan berasal dari kondisi medan pegunungan serta cuaca yang tidak mendukung. Lokasi jatuhnya pesawat berada di sekitar Gunung Bulusaraung, sehingga menyulitkan akses evakuasi udara.

Basarnas telah mengerahkan berbagai unsur dalam operasi pencarian, termasuk pesawat jenis Boeing serta tiga unit helikopter. Upaya modifikasi cuaca juga dilakukan agar evakuasi dapat berjalan lebih optimal.

Selain mencari korban, tim SAR juga melakukan pengumpulan puing-puing pesawat yang nantinya akan diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk kepentingan investigasi lanjutan.

Editorial Team