Comscore Tracker

Puluhan Tahun Mati, Jalur Kereta Rangkasbitung-Labuan Dihidupkan Lagi

Jalur kereta Rangkasbitung-Labuan akan dimulai pada 2019

Pandeglang, IDN Times - Puluhan tahun terbenam mati dalam sejarah, riwayat tentang jalur kereta api di wilayah Banten kini muncul kembali. Siapa sangka, ternyata wilayah paling barat Pulau Jawa juga memiliki jalur kereta api yang tak kalah ramai dengan daerah lainnya.   

Jalur kereta yang paling melegenda adalah Rangkasbitung-Labuan di wilayah Provinsi Banten.

Berdasarkan buku Mosaik Perjuangan Kereta Api, Perusahaan Kereta Api, Bandung 1995, Boekoe Peringatan dari Staatsspoor & Tramwegen Hindia Belanda 1875-1925 dan Topografische Inrichting Weltevreden, 1925, jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan dibangun pada 1906 oleh Staatsspoorwegen (SS), salah satu dari beberapa perusahaan kereta api pada zaman Hindia Belanda.

Seiring zaman, setelah Indonesia merdeka atau tepatnya pada 1945, jalur ini kemudian diambil alih pengoperasiannya oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI), perusahaan kereta api yang dibentuk oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Kini, jalur kereta api yang menghubungkan Labuan, Pandeglang dengan Rangkasbitung, Lebak tinggal sejarah. Tidak hanya berhenti  beroperasi, namun banyak bagian dari jalur yang masuk dalam Wilayah Aset Pt. Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Oprasional I Jakarta ini, hilang dan sudah beralih fungsi. 

Baca Juga: Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung Ditargetkan Beroperasi Tahun 2021

1. Pernah ramai pada masanya, 14 stasiun ini kini tinggal kenangan

Puluhan Tahun Mati, Jalur Kereta Rangkasbitung-Labuan Dihidupkan LagiWikipedia

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pandeglang, selain stasiun Rangkasbitung ada 14 stasiun kereta api yang pernah ramai di Pandeglang pada zamannya.

Stasiun-stasiun itu meliputi Stasiun Pandeglang kode PDG, Stasiun Cibiuk Kecamatan Banjar kode CBI, Stasiun Cimenyan kode CMY, Stasiun Kadukacang Kecamatan Cipeucang kode KDK, Stasiun Sekong Kecamatan Saketi kode SE, Stasiun Cipeucang Kecamatan Cipeucang kode CPG, Stasiun Cikaduwen Kecamatan Saketi kode CWN, dan Stasiun Saketi kode STI.

Lalu Stasiun Sodong Kecamatan Saketi kode SOG, Stasiun Kenanga Kecamatan Menes kode KNA, Stasiun Menes kode MNS, Stasiun Babakanlor Kecamatan Cikedal kode BBR, Stasiun Kalumpang kode KAL, terakhir Stasiun Labuan kode LBN.

Kini, jalur-jalur itu sudah tidak lagi beroperasi. Sebagian besar stasiun beralih fungsi menjadi rumah, gudang, dan sebagainya.

2. Ditutup karena kalah bersaing dengan moda transportasi lain

Puluhan Tahun Mati, Jalur Kereta Rangkasbitung-Labuan Dihidupkan LagiARSIP NASIONAL

Dalam dekade 1950 sampai 1960 akhir, lintas ini cukup ramai dengan perjalanan kereta penumpang dan barang sebanyak 5 kali sehari pulang pergi.

Hingga memasuki awal tahun '80, jalur ini mulai kehilangan gairah, dan pada 1984 jalur ini ditutup oleh pemerintah karena kalah bersaing dengan moda transportasi massal lainnya.

Pegiat sejarah kereta api Indonesia, Misbah Priagung Nursalim menjelaskan, fungsi utama kereta api yang dirintis Belanda awalnya untuk mengangkut hasil bumi, hal itu dapat dilihat dari rutenya yang menghubungkan perkebunan, area pertanian dengan pelabuhan.

"Di era Jepang, rel yang ada sebagian dipindah ke Myanmar. Setelah kemerdekaan kereta mengedepankan angkutan penumpang. Namun, beberapa daerah peminatnya sedikit. Dari pada PJKA waktu itu terus merugi karena peminatnya jarang, makanya dimatikan," kata Misbah kepada IDN Times, Sabtu (18/5).

3. Rencana menghidupkan kembali jalur Rangkasbitung-Labuan dimulai pada 2019

Puluhan Tahun Mati, Jalur Kereta Rangkasbitung-Labuan Dihidupkan LagiWikipedia

Misbah menerangkan, kini pemerintah melalui KAI melirik rute-rute mati tersebut lantaran arus transportasi masyarakat semakin hari semakin meningkat.

"Sekarang rute-rute tersebut dihidupkan lagi karena animo masyarakat ke bus sangat tinggi. Makanya KAI mau mengambil pasar bus di jalur-jalur yang sempat dimatikan," kata Misbah.

Diketahui, setelah 35 tahun mati dan kehilangan banyak bekas peninggalannya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dipastikan akan menghidupkan kembali jalur kereta Rangkasbitung-Labuan.

Pada 2019 ini, pembangunan dipastikan direalisasikan karena sudah terbentuk tim terpadu penertiban jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan. Pembentukan tim terpadu berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal Perkeretapian Kementerian Perhubungan Nomor UM.002/17/BPWJB/I/2019.

Tim terpadu melibatkan Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kabupaten Lebak, Pemerintah Pandeglang, Kepolisian, dan Kodim.

4. Pengoperasian kembali jalur mati akan meningkatkan perekonomian masyarakat

Puluhan Tahun Mati, Jalur Kereta Rangkasbitung-Labuan Dihidupkan LagiIDN Times/Muhamad Iqbal

Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, menyambut positif jalur kereta api (KA) Rangkasbitung-Labuan dioperasikan kembali, karena bakal berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah itu.

"Kita yakin pengoperasian jalur KA itu banyak keuntungan, terlebih kebijakan pemerintah daerah mengoptimalkan sektor pariwisata," kata seorang petugas Dinas Perhubungan Kabupaten Lebak, Asep Topik Hidayat, di Lebak, Senin (18/3).

Pembangunan reaktivasi jalur KA yang akan berdampak bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat itu juga membebaskan Kabupaten Lebak dan Pandeglang dari daerah tertinggal.

Pengoperasian jalur KA itu secara langsung membuka akses ekonomi antara wilayah barat dengan bagian utara Provinsi Banten yang lebih maju.

Asep mengatakan, Pemkab Lebak siap melakukan pendataan terhadap ribuan kepala keluarga yang menempati lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Pendataan ulang dan pemetaan jalur perlu dilakukan karena jalur Rangkasbitung-Labuan sepanjang sekitar 70 km dihentikan operasinya pada 1980-an.

Baca Juga: Jalur Kereta Api Berencana Dibangun di Bali, Desainnya Harus Berbeda

Topic:

  • Sunariyah

Just For You