Comscore Tracker

Kisah Nyimas Gamparan, Pendekar Perempuan Banten Penolak Tanam Paksa 

Perempuan gagah berani menentang tanam paksa Belanda

Serang, IDN Times - Di Indonesia, pejuang perempuan tersebar hampir di seluruh daerah. Di Banten, yang terkenal sebagai kawasan yang "melahirkan" pendekar alias para jago sejak zaman penjajahan, terselip dua nama pendekar perempuan yakni Nyimas Gamparan dan Nyimas Melati.

Meski perempuan dan terselip di antara puluhan bahkan ratusan jawara atau pendekar yang didominasi laki-laki, namun keberanian Nyimas Gamparan dan Nyimas Melati, tak diragukan lagi. Keduanya langsung terjun ke medan tempur di Banten dan wilayah yang berbatasan dengan Batavia (sekarang Jakarta).

Berikut kisah perjuangan salah satu pendekar perempuan Banten, Nyimas Gamparan, juga pengkhianatan dan akhir hidupnya.

Baca Juga: Sosok RA Kartini, Jago Masak hingga Dakwah Islam ke Kolega Belanda

1. Memimpin puluhan pendekar wanita untuk menolak Cultuurstelsel atau aturan tanam paksa

Kisah Nyimas Gamparan, Pendekar Perempuan Banten Penolak Tanam Paksa IDN Times/Muhamad Iqbal

Nyimas Gamparan lahir dari keluarga kesultanan Banten. Disarikan dari berbagai sumber, dia mengobarkan perlawanan terhadap kolonial Belanda lantaran bangsa penjajah itu dianggap telah menginjak-injak sejarah leluhur karena menghapus sistem kesultanan Banten sekitar 1813, pada era Sultan Syafiudin.

Heroisme Nyimas Gamparan dikenal dalam perang Cikande. Perang tersebut terjadi pada 1829 hingga 1830. Perang meletus lantaran Nyimas Gamparan yang memimpin puluhan pendekar wanita, menolak Cultuurstelsel atau aturan tanam paksa yang dibuat oleh pemerintahan kolonial Belanda pada 1830, yang diterapkan kepada penduduk pribumi.

Nyimas Gamparan dan puluhan prajuritnya menggunakan taktik perang gerilya untuk menghadapi pasukan Belanda. Pasukan Nyimas Gamparan ini memiliki markas persembunyian di wilayah yang kini disebut Balaraja, Kabupaten Tangerang.

Konon, penamaan Balaraja berasal dari pasukan Nyimas Gamparan. Balaraja merupakan tempat singgah para raja dengan asal kata Balai dan Raja, dan ada juga yang menyebutnya sebagai tempat berkumpulnya bala tentara Raja.

2. Peperangan oleh Nyimas Gamparan lebih dahsyat dari pemberontakan Geger Cilegon

Kisah Nyimas Gamparan, Pendekar Perempuan Banten Penolak Tanam Paksa watchmojo.com

Saat dimulainya peperangan oleh pasukan Nyimas Gamparan, serangan demi serangan yang dilakukan oleh pasukan Nyimas membuat Belanda sangat kerepotan. Berbagai cara pun dilakukan untuk menumpas pasukan wanita pimpinan Nyimas Gamparan.

Dikisahkan, perjuangan Nyimas Gamparan tersebut dikenal dengan Perjuangan Cikande Udik, dengan lokasi Cikande Timur sebagi titik episentrum gerak gerilya pasukannya.

Pasukan itu dikenal sangat merepotkan Belanda. Bahkan, seorang tuan tanah Belanda yang menguasai lahan yang terbentang dari Cikande (kini Kecamatan Cikande, Kaupaten Serang) sampai Maja (kini Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak) tewas terbunuh beserta keluarganya. Mereka juga menyerang objek-objek milik pemerintah kolonial.

Pemberontakan yang dipimpin oleh Nyimas Gamparan ini dikenal jauh lebih dahsyat dan masif dari pemberontakan Geger Cilegon pada 1888, yang justru kini lebih dikenal masyarakat. Kisah pemberontakan Nyimas Gamparan kurang dikenal masyarakat karena sampai kini belum ada orang yang menyusun disertasi ataupun menuliskannya dalam bentuk buku.

3. Dikalahkan karena politik devide et impera atau politik adu domba kolonial

Kisah Nyimas Gamparan, Pendekar Perempuan Banten Penolak Tanam Paksa Ilustrasi para pelaut dan pedagang VOC saat diterima oleh penguasa lokal Kesultanan Banten pada tahun 1594. Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures

Ada beragam versi terkait akhir hidup perempuan gagah berani ini. Ada yang menyebut, Nyimas Gamparan gugur di medan tempur, ada juga yang menyebut dibunuh di bawah hukuman kolonial, dan sebagian lagi menduga Nyimas Gamparan tutup umur secara alamiah.

Dari sekian asumsi itu, cerita yang paling terkenal adalah Belanda menggunakan politik devide et impera atau politik adu domba untuk menaklukan Nyimas Gamparan. Dikisahkan, Raden Tumenggung Kartanata Nagara yang menjadi Demang di wilayah Jasinga, Bogor, diminta bantuan untuk menumpas milisi perempuan ini. Tumenggung Kartanata diiming-imingi bakal dijadikan penguasa di daerah Rangkasbitung oleh Belanda.

Pasukan Ki Demang inilah yang kemudian diadu dengan Pasukan Nyimas Gamparan. Taktik Belanda ini rupanya cukup ampuh. Nyimas Gamparan akhirnya berhasil dikalahkan oleh pasukan Kartanata Nagara. Nyimas Gamparan pun disemayamkan di daerah Pamarayan, Serang-Banten.

Memperingati HUT ke-75 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, IDN Times meluncurkan kampanye #MenjagaIndonesia. Kampanye ini didasarkan atas pengalamanan unik dan bersejarah bahwa sebagai bangsa, kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI dalam situasi pandemik COVID-19, di saat mana kita bersama-sama harus membentengi diri dari serangan virus berbahaya. Di saat yang sama, banyak hal yang perlu kita jaga sebagai warga bangsa, agar tujuan proklamasi kemerdekaan RI, bisa dicapai.

Topic:

  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya