Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pemberdayaan Desa BRILian Dorong UMKM Tumbuh dan Ekonomi Melaju
Di atas hamparan sekitar 190 hektare lahan di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, rimbunnya pohon lontar tidak sekadar menjadi lanskap alam yang khas tetapi telah menjelma sebagai sumber penghidupan utama masyarakat. Desa ini dikenal sebagai sentra produksi legen, minuman tradisional yang dihasilkan dari getah bunga lontar, dengan ribuan pohon yang menopang aktivitas ekonomi warga. (Dok. BRI)
  • Desa Hendrosari di Gresik sukses mengembangkan Wisata Edu Lontar Sewu yang memanfaatkan potensi pohon lontar, menyerap puluhan tenaga kerja, dan mendorong pertumbuhan puluhan UMKM lokal.
  • Dukungan BRI melalui program KUR dan bantuan sarana produksi membantu petani legen meningkatkan pemasaran serta memperkuat keberlanjutan usaha berbasis potensi desa.
  • Program Desa BRILiaN dari BRI memperkuat ekonomi kerakyatan lewat penguatan kelembagaan desa, digitalisasi keuangan, dan pendampingan berkelanjutan yang telah menjangkau lebih dari 5.200 desa di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Program Desa BRILiaN mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat di Desa Hendrosari melalui pengembangan wisata Edu Lontar Sewu serta dukungan terhadap UMKM dan petani legen.
  • Who?
    BRI, BUMDes Hendrosari, pemerintah desa, pelaku UMKM lokal, serta masyarakat Desa Hendrosari yang terlibat dalam pengelolaan wisata dan produksi legen.
  • Where?
    Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
  • When?
    Pengembangan wisata dimulai pada tahun 2019 melalui program PIID-Pel Kementerian Desa dan terus berjalan hingga saat ini dengan dukungan berkelanjutan dari BRI.
  • Why?
    Kegiatan ini dilakukan untuk mengoptimalkan potensi lokal desa, memperkuat ekonomi kerakyatan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan UMKM dan sektor pariwisata.
  • How?
    Pemberdayaan dilakukan lewat pendampingan BRI dalam program Desa BRILiaN, pembiayaan KUR, bantuan sarana produksi, digitalisasi layanan keuangan, serta kolaborasi antara pemerintah desa dan pelaku usaha lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gresik, IDN Times - Di atas hamparan sekitar 190 hektare lahan di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, rimbunnya pohon lontar tidak sekadar menjadi lanskap alam yang khas tetapi telah menjelma sebagai sumber penghidupan utama masyarakat. Desa ini dikenal sebagai sentra produksi legen, minuman tradisional yang dihasilkan dari getah bunga lontar, dengan ribuan pohon yang menopang aktivitas ekonomi warga.

Transformasi ekonomi Desa Hendrosari semakin menguat sejak hadirnya destinasi Wisata Edu Lontar Sewu yang dikembangkan pada 2019 melalui program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PIID-Pel) Kementerian Desa. Kehadiran wisata ini menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal yang terintegrasi dengan pengembangan UMKM dan pemberdayaan masyarakat.

1. Keinginan untuk mengoptimalkan potensi desa

Transformasi ekonomi Desa Hendrosari semakin menguat sejak hadirnya destinasi Wisata Edu Lontar Sewu yang dikembangkan pada 2019 melalui program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PIID-Pel) Kementerian Desa. (Dok. BRI)

Pengembangan kawasan wisata ini berangkat dari keinginan untuk mengoptimalkan potensi desa secara menyeluruh, dimana terdapat sekitar 3.600 pohon lontar serta potensi UMKM yang cukup besar. 

Kini, destinasi tersebut telah menyerap puluhan tenaga kerja lokal serta mendorong pertumbuhan pelaku usaha di sekitarnya. Tercatat sebanyak 63 karyawan warga setempat, serta 47 UMKM yang aktif beroperasi dan berkembang bersama ekosistem wisata. Bahkan, pada masa puncak kunjungan, jumlah UMKM yang terlibat pernah mencapai lebih dari 100 pelaku usaha.

Direktur BUMDes Hendrosari Aristoteles menyampaikan bahwa kehadiran wisata ini telah memicu tumbuhnya berbagai usaha baru di masyarakat. “Perkembangan Edu Wisata Lontar Sewu mendorong munculnya banyak warung dan usaha mandiri yang semakin memperkuat ekonomi desa,” jelasnya.

2. Perubahan signifikan

Di atas hamparan sekitar 190 hektare lahan di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, rimbunnya pohon lontar tidak sekadar menjadi lanskap alam yang khas tetapi telah menjelma sebagai sumber penghidupan utama masyarakat. Desa ini dikenal sebagai sentra produksi legen, minuman tradisional yang dihasilkan dari getah bunga lontar, dengan ribuan pohon yang menopang aktivitas ekonomi warga. (Dok. BRI)

Perubahan signifikan juga dirasakan oleh para petani legen utamanya pada pola pemasaran telah berubah secara drastis. Sebelumnya petani harus berkeliling dari pasar ke pasar untuk menjual legen, sekarang justru pembeli yang datang langsung ke desa wisata.

Di sisi lain, dukungan dari BRI melalui pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta bantuan sarana produksi seperti mesin pendingin telah memberikan dampak nyata bagi keberlangsungan usaha petani.

BRI tidak hanya hadir sebagai penyedia akses pembiayaan, tetapi juga sebagai mitra strategis yang memberikan solusi konkret sesuai kebutuhan pelaku usaha desa. Melalui pendekatan yang berkelanjutan, BRI turut mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing ekonomi masyarakat.


3. Inisiatif strategi BRI

Gedung BRI. (Dok. BRI)

Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan bahwa program Desa BRILiaN merupakan inisiatif strategis BRI dalam memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan melalui penguatan desa.

“Program Desa BRILiaN berfokus pada empat pilar utama, yaitu penguatan kelembagaan desa seperti BUMDes dan koperasi, digitalisasi layanan keuangan melalui BRImo dan AgenBRILink, pengembangan ekonomi berkelanjutan, serta inovasi desa. BRI secara konsisten melakukan pendampingan agar desa mampu mengoptimalkan potensinya secara mandiri,” jelas Akhmad.

Akhmad menambahkan, hingga saat ini program Desa BRILiaN yang diinisiasi oleh BRI telah menjangkau lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia dan terus diperluas guna menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah.

Keberhasilan Desa Hendrosari menjadi bukti bahwa pengelolaan potensi lokal yang terintegrasi dengan dukungan ekosistem yang tepat mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, pelaku UMKM, serta dukungan berkelanjutan dari BRI, desa ini terus melangkah menjadi desa wisata yang mandiri, produktif, dan berdaya saing. (WEB)

Editorial Team