IDN Times/Axel Jo Harianja
Asep sebelumnya juga mengatakan, pihaknya hingga saat ini masih menginvestigasi terkait peristiwa kerusuhan dalam aksi demo pada 21-23 Mei 2019 lalu di Jakarta.
Menurutnya, Polri hingga saat ini setidaknya telah mencatat sembilan korban meninggal dunia akibat Aksi 21-23 Mei. Salah satu tugas penting tim investigasi itu, kata Asep, adalah mencari penyebab meninggalnya para korban tersebut.
"Salah satu hambatan adalah secara keseluruhan belum diketahui TKP-nya (meninggalnya korban) ada di mana. Karena semuanya, korban-korban ini diduga pelaku aksi rusuh yang langsung diantarkan ke rumah sakit," jelas Asep di Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (12/6) lalu.
"Jadi kita menelusuri kembali di mana korban itu jatuh dan meninggal dunia. Ini menjadi penting sebagai titik awal penyelidikan kita, di mana kejadiannya, seperti apa peristiwanya, dan saksi-saksinya," sambungnya.
Dalam tahap penyelidikan, lanjut Asep, semua harus melalui proses. Yang utama ialah, pihaknya harus berangkat dari olah tempat kejadian perkara (TKP).
"Dari situ (olah TKP) kita mengembangkan saksi yang lihat, tahu, dan dengar. Kemudian karena ini meninggal yang diduga akibat peluru tajam, maka kita harus tahu bagaimana arah tembak, jarak tembak, dan sebagainya. Jadi olah TKP itu penting, kuncinya sekali lagi kita menemukan di mana TKP-nya," tegas Asep.
Lebih lanjut, Asep berharap lembaga-lembaga lain seperti Kompolnas, Ombudsman, dan Komnas HAM terus memberi dukungan bagi tim investigasi yang dibentuk Kapolri itu dalam menuntaskan kasus tewasnya kesembilan korban Aksi 21-23 Mei tersebut.
"Oleh karenanya diharapkan sebuah kerja sama, selain dari lembaga yang tadi saya sebutkan, juga masyarakat diharapkan memberikan keterangan. Intinya, tim investigasi gabungan sedang bekerja keras untuk menemukan bukti itu," kata Asep.