Saat dia merasa semua upayanya sia-sia dan ingin mati saja, keluarga tetap mendukungnya agar tak menyerah. Mereka yakin, usaha keras akan menuai hasil setimpal. Kendati masalah ekonomi kian menghimpit, mereka percaya rezeki akan selalu ada. Binsar pun menghadapi dua pilihan sulit, bekerja atau berobat. Sebab keduanya tak bisa dilakukan bersamaan.
"Atas dukungan keluarga, saya komitmen berhenti bekerja dan fokus berobat. Setahun lebih saya gak kerja. Efek samping masih terjadi, dan selama pengobatan batuk darah terus," ungkapnya.
Binsar tetap optimis dan maju. Dia ingin hidup normal seperti orang lain, sehat dan bisa tertawa dengan keluarga. Walau batuk darah, dia tak pernah absen minum obat. Hal paling memilukan yang tak pernah dia lupakan adalah saat berjalan kaki dari rumah menuju rumah sakit. Perutnya kosong lantaran tak ada makanan yang bisa disantap di rumah.
"Saya gak peduli orang bilang apa, yang saya tahu saya mau berobat. Ada istri dan keluarga yang senantiasa mendukung saya. Hanya melalui pengobatan MDR inilah saya bisa sembuh. Kalau gak sembuh, saya akan menularkannya pada orang lain. Saya gak mau itu terjadi," tuturnya.