Kisruh antara Bonek Persebaya dan Aremania Malang yang terjadi di Sragen, Jawa Tengah menodai kesucian fair play sepak bola Indonesia. Kerusuhan semacam ini seharusnya tidak perlu terjadi. Pasalnya, semua itu memang hanya dipicu oleh hal sepele. Gengsi antara masing-masing tim dan merasa paling hebat membuat aksi anarkis ini terus berlanjut menimbulkan efek domino.
Kejadian pertama bermula saat satu rombongan suporter Arema berangkat menuju Sleman dengan bus pariwisata. Bus yang berisikan 34 orang ini secara tiba-tiba diserang oleh rombongan Bonek berjumlah sekitar empat truk. Ratusan Bonek menghujani bus tersebut dengan batu. Dalam kejadian penyerangan ini, seorang Aremania tewas di tempat karena gagal menyelamatkan diri. Dia ditarik keluar dan kepalanya dihantam dengan batu. Satu korban yang tewas mengenaskan bernama Eko Prasetyo.
Kejadian kedua bermula saat ada sebuah mobil Carry berisi tujuh orang Aremania yang sedang menambal ban. Tiba-tiba rombongan Bonek datang dan menyerang mobil tersebut. Dalam peristiwa ini, sang sopir terlambat melarikan diri. Lalu dia pun menjadi bulan-bulanan Bonek dan mulai dari dihajar dengan ban. Bahkan sampai dipukul menggunakan kayu bambu. Korban yang bernama Slamet ini langsung tewas pada saat melakukan perjalanan ke Rumah Sakit.
Polisi tetapkan 31 orang sebagai tersangka.
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah menetapkan 31 orang tersangka dalam kasus ini. Para tersangka melakukan penyerangan pendukung Arema di dua lokasi yang berbeda. Peristiwa yang pertama terjadi di SPBU Jatisumo yang dilakukan oleh 17 tersangka. Lalu 14 tersangka sisanya melakukan penyerangan di sebuah bengkel tambal ban Nglorog di wilayah Sragen.
Para tersangka tersebut akan dijerat dengan pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan, pasal 351 tentang penganiayaan, dan pasal 338 tentang pembunuhan. Dalam peristiwa miris ini, polisi mengamankan beberapa barang bukti antara lain ketapel, senjata tajam, bongkahan batu, balok kayu, ban dan pelek.
Sepak bola adalah alat pemersatu bangsa, bukan sebaliknya.
Sepak bola sebetulnya diciptakan sebagai alat pemersatu bangsa. Bukan malah menjadikan perilaku fanatisme yang berlebihan dan menimbulkan korban jiwa. Sikap “keblabasan” yang sering dilakukan oleh para suporter kerap kali menodai kesucian sepak bola sebagai alat untuk mempersatukan bangsa ini.
Pelatih Surabaya United, Ibnu Graham berkomentar bahwa dirinya sebenarnya tak ingin ada permusuhan yang terjadi antara Malang dan Surabaya yang terus berlarut-larut. Rasa dendam yang semacam ini tidak baik dalam hubungan antar manusia. Padahal sebetulnya hubungan manajemen Arema dan Persebaya juga sangat baik.
Semoga kejadian semacam ini tidak sampai terjadi lagi. Sepak bola adalah persahabatan. Jangan sampai ada lagi yang berduka cita. Jangan sampai ada kekerasan lagi yang menimbulkan nyawa orang-orang tak berdosa melayang sia-sia.
