Ilustrasi polisi menembakkan gas air mata. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Agenda perbaikan dan penguatan, kata Gusma, seharusnya diarahkan pada pengawasan internal, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kecepatan sistem pelayanan publik di tubuh Polri.
“Reformasi bukan soal memindahkan struktur, tetapi memastikan Polri semakin profesional, dipercaya publik, dan benar-benar hadir melayani masyarakat. Salah satunya dengan meningkatkan survei kepercayaan publik terhadap Polri dimana saat ini Polri termasuk tiga besar lembaga yang dipercaya masyarakat." kata dia.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengaku memilih menjadi petani ketimbang harus menjadi menteri kepolisian. Hal ini menjawab isu usulan kedudukan Polri berada di bawah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Listyo juga baru-baru ini mengaku mendapat pesan singkat yang menawarkan apakah ia berkenan menjadi menteri kepolisian.
"Hal ini saya tegaskan di hadapan bapak ibu sekalian, dan seluruh jajaran bahwa saya menolak polisi di bawah kementerian. Dan kalaupun saya yang jadi menteri kepolisian, saya lebih baik menjadi petani saja," kata Listyo dalam rapat bersama Komisi III DPR, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Listyo menilai, meletakkan Polri di bawah kementerian sama saja melemahkan institusi Polri, melemahkan negara, dan melemahkan presiden. Karena itu, dia menegaskan, lebih baik ia dicopot sebagai Kapolri daripada institusinya diutak-atik menjadi Kementerian Kepolisian.
"Apabila ada pilihan, apakah polisi tetap berada di bawah presiden atau polisi tetap di bawah presiden namun ada menteri kepolisian, saya memilih kapolri saja yang dicopot," ujar Kapolri.