Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Polri di Bawah Kementerian Dinilai Buka Ruang Intervensi Politik
ilustrasi Polisi (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Intinya sih...

  • Penempatan Polri di bawah kementerian berpotensi menimbulkan masalah komando dan pengambilan keputusan yang tidak efektif.

  • Fokus utama Polri haruslah memperkuat kinerja, profesionalisme, integritas, transparansi, dan akuntabilitas tanpa perubahan struktural.

  • Reformasi Polri seharusnya difokuskan pada pengawasan internal, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kecepatan sistem pelayanan publik.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menolak usulan penempatan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah kementerian khusus.

Pemuda Katolik menilai, penolakan Kapolri sudah tepat, karena Polri memiliki fungsi strategis dalam menjaga keamanan nasional, penegakan hukum, dan stabilitas politik. Polri juga dinilai harus berada langsung di bawah Presiden, agar tidak terjebak dalam tarik-menarik kepentingan sektoral.

“Menempatkan Polri di bawah kementerian juga berisiko membuka ruang intervensi politik yang lebih besar dalam tugas-tugas kepolisian. Ini bisa mengganggu prinsip netralitas aparat penegak hukum,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/1/2026).

1. Polri di bawah kementerian bisa menimbulkan masalah komando

ilustrasi Polisi (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Selain itu, penempatan Polri di bawah kementerian berpotensi menimbulkan masalah baru dalam sistem komando dan pengambilan keputusan. Menurut Gusma, garis komando langsung antara Presiden dan Kapolri merupakan bagian penting dari prinsip netralitas dan independensi Polri.

“Jika Polri ditempatkan di bawah kementerian, maka rantai komando antara Presiden dan Polri akan menjadi lebih panjang dan berpotensi tidak efektif. Ini dapat menghambat kecepatan pengambilan keputusan, terutama dalam situasi krisis yang membutuhkan respons cepat,” ujar dia.

2. Polri harus fokus berbenah kinerja

ilustrasi Polisi (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Menurut Gusma, fokus utama yang lebih mendesak untuk Polri saat ini adalah terus memperkuat dan meningkatkan kinerja dan tata kerja, bukan mengubah posisi kelembagaan secara struktural.

“Yang krusial hari ini adalah bagaimana memperkuat kinerja dan pelayanan Polri kepada masyarakat, baik dari segi profesionalisme, integritas, maupun pola kerja yang lebih transparan dan akuntabel. Perubahan struktur tanpa pembenahan kinerja justru tidak menyentuh akar persoalan,” ujar Gusma.

3. Reformasi Polri bukan memindahkan struktur

Ilustrasi polisi menembakkan gas air mata. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

Agenda perbaikan dan penguatan, kata Gusma, seharusnya diarahkan pada pengawasan internal, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kecepatan sistem pelayanan publik di tubuh Polri.

“Reformasi bukan soal memindahkan struktur, tetapi memastikan Polri semakin profesional, dipercaya publik, dan benar-benar hadir melayani masyarakat. Salah satunya dengan meningkatkan survei kepercayaan publik terhadap Polri dimana saat ini Polri termasuk tiga besar lembaga yang dipercaya masyarakat." kata dia.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengaku memilih menjadi petani ketimbang harus menjadi menteri kepolisian. Hal ini menjawab isu usulan kedudukan Polri berada di bawah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Listyo juga baru-baru ini mengaku mendapat pesan singkat yang menawarkan apakah ia berkenan menjadi menteri kepolisian.

"Hal ini saya tegaskan di hadapan bapak ibu sekalian, dan seluruh jajaran bahwa saya menolak polisi di bawah kementerian. Dan kalaupun saya yang jadi menteri kepolisian, saya lebih baik menjadi petani saja," kata Listyo dalam rapat bersama Komisi III DPR, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Listyo menilai, meletakkan Polri di bawah kementerian sama saja melemahkan institusi Polri, melemahkan negara, dan melemahkan presiden. Karena itu, dia menegaskan, lebih baik ia dicopot sebagai Kapolri daripada institusinya diutak-atik menjadi Kementerian Kepolisian.

"Apabila ada pilihan, apakah polisi tetap berada di bawah presiden atau polisi tetap di bawah presiden namun ada menteri kepolisian, saya memilih kapolri saja yang dicopot," ujar Kapolri.

Editorial Team