Ribuan ikan mati di Danau Maninjau bukan kali ini saja terjadi. Pada awal Februari 2020 juga pernah terjadi. Sekitar 10 ton bangkai ikan jenis nila mati dan mengapung di Danau Maninjau. Namun, ikan-ikan tersebut dikubur ke tempat lain sehingga bau dari bangkai ikan tak mengganggu warga.
Bahkan, ikan yang mati tersebut mencapai 63 ton, yang tersebar di Linggai Nagari Duo Koto, Kota Kaciak dan lainnya. Ikan-ikan ini juga mati setelah angin kencang melanda daerah itu semenjak 2 Februari 2020, sehingga oksigen berkurang di dasar perairan danau, karena naiknya sedimen di dasar. Kondisi tersebut membuat ribuan ikan mengalami pusing dan keluar ke permukaan danau untuk mencari oksigen.
Puluhan ton ikan itu langsung dikubur ke lokasi yang telah disediakan di Linggai, Nagari Duo Koto, Kecamatan Tanjungraya. Untuk mengeluarkan bangkai ikan, masyarakat gotong-royong pembersihan bangkai ikan yang melibatkan staf kecamatan, perangkat wali nagari, dan wali jorong. Ikan yang mengapung itu dimasukan ke dalam goni dan dikumpulkan ke dalam lubang yang telah disediakan.
Tak hanya itu, sekitar 10 ton ikan jenis nila juga mati secara massal di Danau Maninjau pada Januari 2020. Ikan tersebut mati akibat curah hujan tinggi melanda daerah itu pada Selasa, 28 Januari 2020.
Sebanyak 10 ton ikan itu berasal dari 15 keramba jaring apung yang berada di Galapuang, Nagari Tanjung Sani, Kecamatan Tanjungraya. Ikan-ikan siap panen ini mulai mengalami pusing dan mengapung ke permukaan danau akibat kekurangan oksigen keesokan harinya setelah hujan deras.
Akibat kejadian itu, petani mengalami kerugian sekitar Rp260 juta, karena harga ikan Rp26 ribu per kilogram saat itu. Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam pun mengimbau kepada para petani agar tidak menebar ikan dari Agustus hingga Februari karena curah hujan cukup tinggi pada bulan itu.