Satgas COVID-19 Banyuwangi. IDN Times/Istimewa
Melihat kondisi demikian, pihaknya berinisiatif melakukan strategi baru, dengan lebih intensif melakukan pendekatan kepada pasien agar mau menempati Isoter. Namun, bila tidak berkenan pihaknya bakal mempertimbangkan upaya penjemputan paksa.
"Harus kreatif dan humanis meminta warga untuk Isoter. Jika belum bisa dipertimbangkan untuk dilakukan penjemputan paksa," katanya.
Ipuk mengatakan, upaya tersebut dilakukan untuk menurunkan risiko penularan COVID-19. Dalam waktu dekat, Satgas bakal bergerak serentak memindahkan warga yang melakukan Isoman fasilitas Isoter. Satgas menargetkan tiap hari tiap kecamatan minimal 20 persen warga isoman pindah ke isoter.
“Saya minta Satgas Kecamatan untuk secara persuasif mangajak warga yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah, agar dipindahkan ke isoter. Lakukan pendekatan yang baik, beri penjelasan bahwa ini untuk menghindari risiko yang lebih berat, seperti keterlambatan penanganan medis,” jelasnya.
Selain menekan potensi penularan, isolasi terpusat diharapkan bisa mempermudah tenaga medis memantau pasien.
Selain yang ada di kecamatan-kecamatan, juga ada isolasi terpusat tingkat kabupaten, yaitu di Balai Diklat ASN yang berkapasitas 130 pasien, dan bisa dikembangkan hingga 150 pasien.
”Bagi mereka yang komorbid atau kondisi tempat isomannya tidak memungkinkan untuk dilakukan disiplin prokes yang ketat di antara penghuninya, maka ajak mereka ke isoter. Isolasi terpusat ini kita harapkan mengurangi potensi penularan, sehingga otomatis menekan jumlah kasus aktif,” ujarnya.
“Nomor kontak dan alamat tempat isolasi di seluruh kecamatan juga telah kami sebar, seperti di media sosial. Silakan dimanfaatkan,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, Ipuk meminta Satgas COVID-19 di tingkat desa maupun kecamatan untuk meningkatkan fasilitas dan layanan di Isoter masing-masing.
"Soal vitamin, obat, bed, oxymeter, makanan sehari-hari, kami cek terus,” jelasnya.