Alat perang peninggalan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Aceh yang disimpan di Museum Juang 45, di Banda Aceh (IDN Times/Saifullah)
Masuknya Jepang ke Tanah Rencong terbilang unik. Para pejuang Aceh dahulu mengundang langsung atau memanfaatkan Negeri Matahari Terbit itu sebagai alat untuk mengusir Belanda. Terlebih, Jepang pada saat itu juga sedang menggalakan propaganda slogan “Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Cahaya Asia” atau lebih dikenal dengan 3A.
“Tujuannya untuk mengusir Belanda, bukan karena senang terhadap Jepang. Sebab sebelumnya telah dilakukan berbagai usaha dan perang sangat panjang tetapi Belanda tidak terusir juga,” jelas dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unsyiah tersebut.
“Jadi kebetulan Jepang masuk dan ada juga propaganda 3A dari Jepang, ini juga dimanfaatkan orang Aceh. Jadi sebenarnya sama-sama saling memanfaatkan,” imbuhnya.
Meski sempat menjalin kerja sama, namun pergolakan sempat terjadi semasa kedudukan Jepang. Peristiwa di Cot Plieng Bayu, yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara, merupakan salah satu bentuk kekecewaan rakyat Aceh.
“Peristiwa itu terjadi karena kecewa terhadap Jepang, ternyata tidak jauh beda dengan Belanda. Makanya pada saat itu ada istilah ‘talet bui, ta peutamong ase’ (kita kejar babi, kita masukan anjing -terj Bahasa Aceh). Padahal haram juga, sama-sama tidak benar.”
Beberapa tahun kemudian, Jepang kalah dalam Perang Dunia II dan kabar proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia telah dibacakannya oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945, sampai juga ke telinga warga Aceh. Meski informasi itu tidak diterima pada hari itu juga, melainkan beberapa hari setelahnya.
Mendapat berita kemerdekaan, sejumlah tokoh Aceh kala itu, melakukan rapat untuk bermusyawarah menentukan sikap yang harus diambil oleh rakyat Aceh. Rapat yang dipimpin oleh Teuku Nyak Arief, dihadiri perwakilan dari berbagai kelompok pejuang maupun ulama di Aceh.
“Undangan itu untuk menentukan bagaimana sikap setelah proklamasi itu. Kita orang Aceh ikut Indonesia atau bagaimana,” ungkap Mawardi.
Pada rapat pertama, tidak mendapatkan hasil. Padahal peserta rapat telah menyerahkan seluruh keputusan kepada Teuku Nyak Arief. Setelah beberapa kali melakukan rapat, hasilnya telah diputuskan. Aceh ikut merdeka bersama Indonesia.
“Dalam rapat tersebut kemudian diputuskan, dengan dia (Teuku Nyak Arief) bersumpah memakai Alquran bahwa untuk ikut proklamasi kemerdekaan Indonesia. Semua tokoh yang hadir saat itu ikut. Setelah itu dilakukan penaikan bendera di depan kantor.”