Comscore Tracker

Kasus COVID-19 di Sleman Melonjak, Bupati Minta Lurah Aktifkan Shelter

Kasus COVID-19 di Sleman melonjak tiga hari ini

Sleman, IDN Times - Kasus COVID-19 di Kabupaten Sleman melonjak dan terus mengalami kenaikan selama tiga hari terakhir ini. Karena itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo memerintahkan kepada semua kelurahan agar mengaktifkan shelter COVID-19.

"Kelurahan agar membentuk shelter COVID-19 tingkat kelurahan, sebagai fasilitas isolasi dan karantina dalam upaya memutus rantai penularan COVID-19," ungkapnya melalui keterangan tertulis, Jumat, 11 Juni 2021.

1. Kasus COVID-19 di Sleman melonjak

Kasus COVID-19 di Sleman Melonjak, Bupati Minta Lurah Aktifkan ShelterIlustrasi ambulans (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kabupaten Sleman, Yogyakarta mencatat kasus positif melonjak pada tiga hari terakhir yakni 10 hingga 12 Juni 2021, dengan penambahan kasus harian di atas 150 kasus.

"Angka penambahan kasus konfirmasi positif COVID-19 harian di Sleman dalam tiga hari terakhir cukup tinggi, bahkan di atas angka 150 kasus per hari," kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Kabupaten Sleman Shavitri Nurmaladewi di Sleman, dilansir ANTARA, Minggu (13/6/2021).

Menurut Shavitri, untuk angka kesembuhan pasien COVID-19 dalam tiga hari tersebut tercatat di bawah angka 100 kasus. "Sedangkan untuk kasus pasien konfirmasi positif yang meninggal dunia dalam tiga hari tersebut tercatat ada enam orang," katanya.

Ia mengatakan, untuk penambahan kasus harian konfirmasi positif COVID-19 pada 10 Juni tercatat sebanyak 178 kasus, pasien sembuh 60 kasus dan pasien meninggal dunia sebanyak 4 kasus.

"Kemudian pada 11 Juni terjadi penambahan kasus konfirmasi positif sebanyak 190 kasus, pasien dinyatakan sembuh nihil dan pasien meninggal dunia satu kasus. Sementara untuk 12 Juni penambahan kasus harian konfirmasi positif sebanyak 178 kasus, sembuh 44 kasus dan meninggal dunia satu kasus," kata Shavitri.

Shavitri mengingatkan karena masih tingginya angka kasus penularan COVID-19 di Sleman, Bupati Sleman mengeluarkan instruksi yang ditujukan kepada seluruh panewu (camat) dan lurah di wilayah setempat untuk membentuk shelter COVID-19 tingkat kelurahan.

"Instruksi Bupati Sleman nomor 14/INSTR/2021 ini memperhatikan peningkatan kasus positif COVID-19 di Kabupaten Sleman yang masih tinggi, dan kasus aktif harian yang terus bertambah, serta terbatasnya kapasitas isolasi di Fasilitas Kesehatan Darurat COVID-19 (FKDC) tingkat kabupaten," katanya.

Selain kepada camat dan lurah, instruksi tersebut juga ditujukan kepada seluruh kepala pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) se-Kabupaten Sleman, dukuh, ketua Rukun Warga (RW), ketua Rukun Tetangga (RT), serta masyarakat di wilayah
Kabupaten Sleman.

"Bupati Sleman meminta seluruh kelurahan agar membentuk selter COVID-19 tingkat kelurahan, sebagai fasilitas isolasi dan karantina dalam upaya memutus rantai penularan COVID- 19, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari penyelenggaraan Posko Penanganan COVID-19 tingkat Kelurahan," kata Shavitri.

Kemudian, Shavitri melanjutkan, kecamatan agar mengoordinasikan dan memantau pembentukan serta pengelolaan selter COVID-19 tingkat kelurahan di wilayah masing-masing.

"Pembentukan dan pengelolaan selter COVID-19 tingkat kelurahan dalam pelaksanaannya dibantu pamong kelurahan, Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, dan mitra kelurahan lainnya, juga dibantu Satlinmas, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, dan anggota masyarakat lainnya," katanya.

Sedangkan untuk pembiayaan pelaksanaan selter COVID-19 tingkat kelurahan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kelurahan. "Masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam operasional dan pembiayaan selter COVID-19 tingkat kelurahan," kata Shavitri.

Pengelolaan selter COVID-19 tingkat kelurahan meliputi antara lain gedung/bangunan/rumah yang digunakan sebagai selter, sarana prasarana pendukung, dan logistik bagi penghuni maupun petugas.

"Sedangkan SDM Petugas Operasional, yang terdiri atas tenaga kesehatan, petugas kerumahtanggaan dan petugas pengawas," katanya.

Shavitri mengatakan pelaksanaan isolasi warga yang dinyatakan positif COVID-19 dilakukan dengan isolasi di selter tingkat kelurahan  bagi warga yang dinyatakan positif COVID-19 dengan kondisi asimtomatik atau bergejala ringan.

"Isolasi mandiri di rumah dapat dilakukan bagi warga masyarakat yang dinyatakan positif COVID- 19 dengan kondisi asimtomatik atau bergejala ringan, jika rumah tersebut tersedia fasilitas kamar dan kamar mandi yang terpisah dengan fasilitas kamar dan kamar mandi bagi anggota keluarga lainnya dan isolasi di selter tingkat Kabupaten dilakukan apabila selter COVID-19 tingkat Kalurahan tidak mampu menangani," katanya.

Sementara, warga yang dinyatakan positif COVID-19 dengan kondisi sedang atau berat, diisolasi dan dirawat di rumah sakit. Isolasi mandiri di rumah wajib mendapatkan izin ketua RT/RW, dan harus dilakukan secara disiplin, dengan pengawasan yang ketat oleh anggota keluarga lain, pengurus RT/RW, dan tetangga sekitar dikoordinasikan oleh dukuh.

"Instruksi bupati Sleman terkait pembentukan selter kelurahan tersebut mulai berlaku 14 Juni 2021," kata Shavitri.

2. Dana pengelolaan shelter dari APBK

Kasus COVID-19 di Sleman Melonjak, Bupati Minta Lurah Aktifkan ShelterIlustrasi Uang Rupiah (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Kustini menjelaskan dana pelaksanaan shelter COVID-19 tingkat kelurahan akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kelurahan (APBK). Selain itu, masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam operasional dan pembiayaan shelter.

Berkenaan dengan pengelolaan shelter COVID-19 tingkat kelurahan ini meliputi gedung atau bangunan dan atau rumah yang digunakan sebagai shelter. Kemudian, sarana prasarana pendukung logistik bagi penghuni maupun petugas, SDM petugas operasional yang terdiri dari tenaga kesehatan, petugas kerumahtanggaan dan petugas pengawas.

"Kapanewon agar mengoordinasikan dan memantau pembentukan serta pengelolaan shelter COVID 19 tingkat kelurahan di wilayah masing-masing," kata Kustini.

3. Isolasi di shelter kabupaten dilakukan ketika shelter tingkat kelurahan tidak mampu menangani

Kasus COVID-19 di Sleman Melonjak, Bupati Minta Lurah Aktifkan ShelterIlustrasi. Petugas medis yang tangani pasien COVID-19 harus mengenakan alat pelindung diri atau APD (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Kustini menjelaskan, ketika ada warga yang dinyatakan positif COVID-19 dengan kondisi asimtomatik atau bergejala ringan, maka akan diisolasi di shelter COVID-19 tingkat kelurahan.

Bagi warga positif COVID-19 dengan kondisi asimtomatik atau bergejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri di rumah jika rumah tersebut tersedia fasilitas kamar dan kamar mandi yang terpisah dengan fasilitas kamar, serta kamar mandi bagi anggota keluarga lainnya.

Untuk isolasi mandiri di rumah, wajib mendapatkan izin ketua RT/RW, dan harus dilakukan secara disiplin dengan pengawasan yang ketat oleh anggota keluarga lain, pengurus RT/RW, dan tetangga sekitar dikoordinasikan dukuh.

"Isolasi di shelter tingkat kabupaten dilakukan apabila shelter COVID-19 tingkat kalurahan tidak mampu menangani. Warga masyarakat yang dinyatakan positif COVID-19 dengan kondisi sedang atau berat, diisolasi dan dirawat di rumah sakit," terangnya.

4. Lurah diminta menyampaikan laporan pelaksanaan

Kasus COVID-19 di Sleman Melonjak, Bupati Minta Lurah Aktifkan ShelterSuasana ruang karantina di bangunan eks Bandara Polonia Medan yang digunakan untuk menampung para TKI (IDNTimes/Istimewa)

Berkenaan dengan penyelenggaraan, semua lurah diminta menyampaikan laporan kepada Ketua Satgas Penanganan COVID-19 tingkat Kapanewon. Selanjutnya Satgas Penanganan COVID-19 tingkat Kapanewon melaksanakan pemantauan dan pengawasan standar penyelenggaraan shelter COVID-19 tingkat kelurahan, dan melaporkan kepada Satgas virus corona kabupaten

"Instruksi bupati ini mulai berlaku pada 14 Juni 2021," kata dia.

Baca Juga: Pokja Genetik UGM Telusuri COVID-19 Varian India di Sleman

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya