Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Saat ditanya lebih lanjut soal atensi pemerintah terhadap teror yang dialami Ketua BEM UGM, Prasetyo menyebut akan mengecek kasus tersebut.
“Ya nanti kita-kita cek lah,” ucapnya singkat.
Sebelumnya, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mendapat teror usai melayangkan surat ke UNICEF berisi kritik pada Presiden Prabowo Subianto atas tragedi meninggalnya YBS, seorang anak di NTT. Tiyo mendapat ancaman penculikan, hingga sempat dikuntit orang tidak dikenal.
“Setelah kami mengirimkan surat tersebut, muncul respons publik yang luar biasa. Ternyata respons publik yang luar biasa dan cenderung positif karena merasa terwakili itu tidak hanya berdiri sendiri, tapi juga diiringi oleh semacam teror. Teror ini adalah bahasa kekuasaan yang gagal menjelaskan pikirannya,” ungkap Tiyo di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026).
Tiyo mengaku mendapat teror dalam bentuk pesan dari nomor yang tidak dikenal yang berasal dari kontak Inggris Raya. Ia pun merasa heran belakangan banyak yang menyinggung soal antek asing, ternyata yang melakukan teror justru dari nomor asing.
"Jangan-jangan antek asing adalah mereka yang menyuruh orang-orang ini supaya neror kita. Dan siapa yang nyuruh orang-orang ini untuk neror kita?” ungkap Tiyo.
Tiyo mengungkapkan pesan teror yang diterima, mulai penculikan, ancaman untuk membuka aib, hingga sempat diuntit orang tak dikenal. “Jadi saya sedang di sebuah kedai, dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto, tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita enggak baik-baik saja,” kata Tiyo.
Selain itu, ibunda Tiyo juga mengalami teror serupa. Tiyo mengungkapkan, ibunya mendapatkan beberapa pesan misterius yang memojokkan dirinya dengan memanfaatkan sejumlah kerentanan, salah satunya pengiriman pesan di waktu tengah malam.
Si peneror, kata Tiyo, setidaknya sudah mengirimkan dua kali pesan ke sang ibu per Selasa (17/2/2026).
"Terorisnya ini tahu waktu yang paling rentan bagi ibu saya untuk cukup punya rasa takut yaitu tengah malam, ketika ibu pasti dalam suasana batin yang tidak stabil," kata Tiyo dalam acara Diskusi Media Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) yang dilaksanakan secara daring, Selasa.
Tiyo menyebut pesan yang dikirimkan kepada ibunya adalah fitnah tak berdasar. Isinya, dia dituding telah menerima duit melalui rekomendasi Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Padahal, kata Tiyo, BEM UGM tak ada sangkut pautnya dalam pengurusan KIP ini. Lagipula, jika ia memang melakukan pelanggaran fatal semestinya sudah diberhentikan dari jabatannya selaku ketua BEM.
"Pesannya yang pertama adalah bahwa anakmu Tiyo Ardianto sebagai ketua BEM, dia nilep uang. Kedua, adalah ada berita orangtua ketua BEM UGM kecewa karena anaknya nilep uang," beber Tiyo.
Dia bilang, sang ibu mengalami ketakutan karena adanya teror dari sosok misterius ini.