Tak lama Ika diminta pramugari menempati kursi nomor 34 di dekat jendela yang saat itu masih kosong. Namun, selang beberapa menit, pemilik kursi datang dan Ika kembali harus berdiri.
Ia kembali menanyakan nasibnya. Lagi-lagi ia diminta duduk di kursi kosong.
"Kalau saya duduk di kursi lain, terus yang punya kursi datang lagi, saya harus berdiri lagi dong? Mau sampai berapa kali saya diri-duduk-diri-duduk?" tanyanya lagi.
Jawaban tak terduga dari pramugari kembali diterimanya.
"Iya, duduk saja dulu. Nanti juga pasti dapat kursi. Ini kan pakainya pesawat kecil. Mbak check in dengan konfigurasi pesawat besar," jawab pramugari lagi yang menurut Ika dengan nada tinggi.
"Saya enggak mau duduk kalau belum jelas. Saya enggak mau dikasih kursi sisa asal-asalan, ya. Saya mau dapat kursi di dekat jendela sesuai saat check in," kata Ika.
Menurut Ika, setelah itu, pramugari bernama Sherryl tersebut tidak mau lagi berbicara dengannya. Ia kemudian dihampiri seorang staf laki-laki yang memakai kemeja putih beserta rompi.
Lagi-lagi dirinya hanya diminta duduk di kursi kosong tanpa memberi tahu letak persisnya.
"Bangku kosong itu yang mana maksudnya? Tunjukkin dong ke saya. Jangan saya disuruh nyari-nyari sendiri. Emangnya kopaja apa?" kata dia kesal.
Ia pun berjalan mengikuti petugas, dan akhirnya diberikan kursi dekat jendela.