Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wakil Menteri (Wamen) Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengecek kondisi Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Bukittinggi, Sumatera Barat pada (25/01/2025). (Dok. Kemendugbangga/BKKBN)
Wakil Menteri (Wamen) Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengecek kondisi Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Bukittinggi, Sumatera Barat pada (25/01/2025). (Dok. Kemendugbangga/BKKBN)

Intinya sih...

  • Pelaku biasanya manfaatkan kondisi psikologis anak yang masih berkembang

  • Anak harus merasa nyaman untuk bercerita

  • Perkuat kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan dan penanganan kasus child grooming

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan bahwa praktik child grooming merupakan bentuk manipulasi yang secara sistematis menyasar kerentanan anak dan remaja.

Hal tersebut disampaikan Isyana dalam keterangannya terkait meningkatnya kasus kekerasan dan eksploitasi anak, khususnya yang bermula dari interaksi di ruang digital. Menurutnya, pelaku grooming kerap membangun hubungan emosional secara bertahap untuk mendapatkan kepercayaan korban sebelum melakukan eksploitasi.

Child grooming merupakan bentuk manipulasi yang menyasar kerentanan anak dan remaja,” ujar Isyana, Kamis (29/1/2026).

1. Pelaku biasanya manfaatkan kondisi psikologis anak yang masih berkembang

Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)

Dia menjelaskan, pelaku biasanya memanfaatkan kondisi psikologis anak yang masih berkembang, rasa ingin tahu, kebutuhan akan perhatian, serta minimnya literasi digital. Dalam banyak kasus, proses ini berlangsung secara perlahan dan sulit dikenali oleh korban maupun orang di sekitarnya.

Isyana menilai, perkembangan teknologi dan media sosial turut memperluas ruang terjadinya child grooming. Interaksi daring yang tidak terpantau dengan baik membuka peluang bagi pelaku untuk mendekati anak tanpa harus bertemu secara langsung.

2. Anak harus merasa nyaman untuk bercerita

Ilustrasi Kekerasan Anak Di NTB (IDN TIMES)

Karena itu, dia menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam membangun sistem perlindungan yang kuat. Orang tua diminta lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak, sekaligus menciptakan komunikasi yang terbuka dan aman.

Menurut Isyana, anak harus merasa nyaman untuk bercerita apabila mengalami situasi yang membuat mereka tidak nyaman, tanpa takut disalahkan atau dihakimi. Pendekatan yang represif justru berpotensi membuat korban memilih diam.

3. Perkuat kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan dan penanganan kasus child grooming

Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)

Selain keluarga, dia juga dorong lembaga pendidikan untuk memperkuat edukasi mengenai keamanan digital, kesehatan mental, serta relasi yang sehat. Pemahaman ini dinilai penting agar anak mampu mengenali tanda-tanda manipulasi sejak dini.

Pemerintah, kata Isyana, terus berupaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan dan penanganan kasus child grooming. Upaya tersebut melibatkan kementerian, aparat penegak hukum, lembaga perlindungan anak, serta penyedia platform digital.

4. Pencegahan harus dilakukan dengan berkelanjutan

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka (Dok. BKKBN)

Dia menegaskan, perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak bersifat reaktif setelah kasus terjadi.

“Upaya perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga dan sekolah, serta diperkuat oleh kebijakan dan penegakan hukum,” kata Isyana.

Dengan langkah terpadu tersebut, pemerintah berharap risiko terjadinya child grooming dapat ditekan, sekaligus memastikan anak dan remaja tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan bermartabat.

Editorial Team