Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar sedang memberi kata sambutan di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar sedang memberi kata sambutan di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)

Intinya sih...

  • Warisan perjuangan Roehana Koeddoes sejak 1911Irene mengungkapkan kekagumannya setelah mendengar kisah perjuangan Roehana Koeddoes yang telah dimulai sejak 1911, jauh sebelum isu kesetaraan perempuan menjadi perhatian luas.

  • Ketulusan hati yang berbuah dampak baik bagi generasi berikutnyaIrene menilai segala sesuatu yang dilakukan dengan ketulusan hati akan memberikan dampak jangka panjang bagi generasi berikutnya.

  • Etika jurnalisme di era akses informasi terbukaDalam konteks jurnalisme, Irene menyoroti pentingnya integritas di tengah derasnya arus informasi digital.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar menekankan pentingnya bekerja dengan ketulusan hati dan menjaga kebenaran, seperti yang dilakukan Roehana Koeddoes, pelopor jurnalis perempuan di Indonesia. Ia menyampaikan, nilai-nilai perjuangan Roehana masih sangat relevan hingga hari ini, terutama dalam konteks jurnalisme dan arus informasi yang semakin terbuka di era digital.

Menurut Irene, Roehana Koeddoes berjuang bukan demi dikenang di masa depan, melainkan semata-mata untuk memajukan nasib perempuan di sekitarnya. Ketulusan itulah yang kemudian menjadi warisan lintas generasi.

Dalam sambutannya di acara diskusi '3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia' yang digelar IDN Times bekerja sama dengan Yayasan Amai Setia dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026), Irene juga mengaitkan semangat perjuangan Roehana dengan tantangan etika jurnalisme dan peran ekonomi kreatif, di tengah perkembangan teknologi dan akses informasi yang semakin luas di Indonesia.

1. Warisan perjuangan Roehana Koeddoes sejak 1911, bekerja dari hati yang tulus

Pemutaran dokumenter Roehana Koeddoes dalam acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Irene mengungkapkan kekagumannya setelah mendengar kisah perjuangan Roehana Koeddoes yang telah dimulai sejak 1911, jauh sebelum isu kesetaraan perempuan menjadi perhatian luas.

Ia meyakini, niat utama Roehana sangat sederhana namun mulia, yakni ingin memperbaiki nasib perempuan di sekitarnya. “Saya yakin pada saat Beliau berjuang, hatinya cuma ada satu, ingin memajukan nasib perempuan-perempuan yang ada di sekeliling Beliau,” katanya.

Menurut Irene, Roehana tidak pernah berpikir bahwa perjuangannya akan dikenang lebih dari satu abad kemudian. “Beliau tidak mungkin ingat bahwa saya melakukan ini, di tahun 2026 saya akan dikenang. Itu artinya bekerja dari hati yang tertulus,” ucapnya.

2. Ketulusan hati yang berbuah dampak baik bagi generasi berikutnya

Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)

Irene menilai, segala sesuatu yang dilakukan dengan ketulusan hati akan memberikan dampak jangka panjang bagi generasi berikutnya “Apapun juga yang dihasilkan dari hati yang tertulus, itulah yang akan dituai oleh kita semua dan generasi-generasi selanjutnya,” kata Irene.

Ia menyebut, nilai tersebut sebagai bagian dari makna Indonesia Emas, yang tidak hanya berbicara tentang kemajuan ekonomi atau teknologi, tetapi juga tentang karakter dan niat baik manusia di dalamnya. Irene juga mengajak hadirin untuk tidak menyerah meski menghadapi kesulitan. “Mungkin sulit, dan mungkin yang kita hadapi itu is like, oh my God, one person against the world (satu orang melawan dunia),” ujarnya.

Namun ia menegaskan, jika niatnya benar, perjuangan tersebut akan memiliki arti. “Percayalah kalau hatinya kita benar-benar pengen melakukan sesuatu yang baik, baik dilihat orang ataupun tidak, ada yang melihat setiap hari,” tuturnya.

3. Etika jurnalisme di era akses informasi terbuka

Pemutaran dokumenter Roehana Koeddoes dalam acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Dalam konteks jurnalisme, Irene menyoroti pentingnya integritas di tengah derasnya arus informasi digital. Ia mengingatkan, kini akses terhadap ilmu dan berita jauh lebih terbuka dibandingkan masa lalu.

“Kalau dulu mau mencari buku itu susah, mau mencari ilmu harus ke sekolah. Hari ini semuanya serba terbuka,” katanya.

Ia menyebut, Indonesia sebagai salah satu negara dengan akses internet terbesar di dunia, meski tantangan geografis sebagai negara kepulauan tetap ada. Menurutnya, keterbukaan ini menjadikan etika jurnalisme semakin krusial.

“Informasi apapun yang keluar menjadi informasi publik, itu tergantung kita semua untuk memastikan apa yang keluar tepat, akurat, dan yang paling penting integritasnya dijaga, kebenaran,” ujar Irene.

Ia berharap nilai-nilai ekonomi kreatif dan jurnalisme tetap berlandaskan hati, sebagaimana perjuangan Roehana Koeddoes. “Mau ada internet atau tidak, yang penting tonggak kebenaran itu selalu ada dan berbasiskan hati dengan niat baik,” katanya.

Menutup pernyataannya, Irene mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto. “Seperti yang Bapak Presiden Prabowo katakan, as a fellow human beings, let’s make it a better world, (sebagai manusia, mari buat dunia menjadi lebih baik),” ujarnya.

Editorial Team