Biak, IDN Times - Sejumlah pemuda tiba di perkampungan dan disambut wor mamun atau nyanyian perang oleh sekelompok warga. Wor mamun sendiri dibawakan dengan tari-tarian serta tabuhan tifa, alat musik tradisional Papua. Tak lama berselang, tetua adat memberi arahan. Perang harus dihadapi dengan gagah berani.
Skenario tersebut ditampilkan pada Parade Wairon dalam rangkaian Festival Biak Munara Wampasi 2019, Rabu (3/7/2019). Kegiatan berlangsung di Pelabuhan BMJ, atau tepatnya di Belakang Hotel Nirmala, Biak Numfor.
Budayawan Biak, Hosea Mirino, mengatakan bahwa dahulu peperangan dilakukan bersama warga kampung tetangga. Termasuk perang melawan penjajah, selalu dilakukan bersama-sama, dalam 1 komando tetua adat.
"Karena kita tinggal di daerah pesisir, kita gunakan perahu untuk menjangkau lokasi perang. Perahu ini kita sebut mansusu karena bisa dikemudikan dua arah, maju dan mundur," ujarnya.
