Meski permintaan tersebut telah dipenuhi, teror belum berhenti. Yama mengaku terus menerima kiriman paket dengan sistem pembayaran di tempat atau cash on delivery (COD) dari akun-akun fiktif.
Paket-paket itu dikirim menggunakan nama istrinya, nomor telepon pribadinya, serta alamat yang tidak ia tinggali. Nilai barang yang dikirim pun disebut cukup besar. Yama bahkan menunjukkan pesan singkat dari kurir yang mengonfirmasi pengiriman paket-paket tersebut.
“Ini tetap berlangsung sampai detik ini, saat video ini dibuat, dan diposting. Saya tetap mendapatkan kiriman barang COD yang nilainya lumayan besar,” ujar Yama.
Yama menyatakan siap membawa persoalan ini ke ranah hukum apabila teror tidak segera dihentikan. Ia menilai tindakan tersebut merugikan dirinya, keluarga, serta pihak lain yang ikut terdampak.
Dalam pernyataannya, Yama juga menyayangkan teror yang ia alami. Ia menegaskan Indonesia merupakan negara demokrasi yang menjamin kebebasan berekspresi selama berada dalam koridor hukum.
Ia pun menyinggung soal tekanan yang dialami karena merasa tidak memiliki perlindungan atau “bekingan” kuat.
“Ya udahlah, kalau kalian memang tidak punya backingan atau tidak punya bohir di belakang, posisi kalian tidak kuat, posting aja yang lucu-lucu deh. Nggak perlu nyenggol siapapun. Atau kalau mau aman, bisa berada dalam lingkaran. Ya pertebal lagi ilmu manjangin lidah, jilat terus, kalian pasti akan aman. Selamat datang di suatu negara yang katanya negara demokrasi,” beber Yama.