Jakarta, IDN Times - Aksi protes nasional yang menantang sistem teokrasi Iran terus meluas dan memasuki pekan kedua, dengan demonstran kembali memadati jalanan di Teheran dan Mashhad hingga Minggu. Gelombang unjuk rasa yang diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan itu dilaporkan telah menewaskan 116 orang.
Di tengah pemadaman internet dan pemutusan jaringan telepon oleh pemerintah, pemantauan situasi dari luar negeri menjadi semakin sulit. Namun, kelompok HAM yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebut lebih dari 2.600 orang telah ditangkap sejak demonstrasi dimulai.
Situasi semakin memanas setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, melontarkan ancaman terbuka terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ia menyebut kedua pihak akan menjadi “target sah” apabila Washington melancarkan serangan terhadap Republik Islam Iran, seperti yang sebelumnya diisyaratkan Presiden AS Donald Trump.
Ancaman tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran komunitas internasional bahwa pemadaman informasi akan memberi ruang bagi kelompok garis keras di dalam negeri untuk melancarkan penindakan berdarah terhadap demonstran.
