Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
12 Tewas Diduga Akibat Limbah Tambang Berlian di Angola
Ilustrasi tambang. (Pexels.com/Vlad Chețan)

Jakarta, IDN Times - Angola memiliki salah satu tambang berlian terbesar di dunia. Tambang itu terletak di Catoca, sekitar 15 kilometer sebelah selatan ibu kota Luanda.

Tambang berlian terbesar ke empat di dunia itu, diduga mengalami kebocoran limbah sejak Juli lalu. Limbah itu mencemari sungai yang mengalir ke Kongo dan membuat banyak ikan mati.

Politikus Kongo yang bernama Eve Bazaiba pada Kamis (2/9), mengatakan 12 warganya tewas karena dampak buruk limbah tersebut. Ribuan lainnya juga jatuh sakit karena diduga mengonsumsi air dan ikan di sungai yang tercemar.

1. Limbah bocor sejak bulan Juli

Sejak 12 Agustus bulan lalu, pemerintah provinsi Kasai di Republik Demokratik Kongo (DRC) melihat Sungai Kasai telah berubah menjadi merah. Sungai itu tercemar limbah yang diduga kebocoran dari tambang berlian yang berada di negara tetangga, Angola.

Melansir kantor berita Reuters, limbah yang mencemari sungai itu diduga mulai terjadi sejak bulan Juli. 

Para peneliti dari DRC mengatakan polusi di sungai itu karena bendungan penampung limbah tambang berlian mengalami kebocoran.

Karena insiden itu, warna air sungai berubah menjadi merah dan menyebabkan banyak ikan mati di provinsi Kasai, selatan negara yang sebelumnya bernama Zaire tersebut.

Pada 9 Agustus, perusahaan tambang menyatakan telah berusaha memperbaiki dengan membangun dua tanggul untuk menyaring sedimen dan air dan telah menutup kebocoran tersebut.

Meski begitu, beberapa pihak yang memegang saham mayoritas tambak menolak memberikan tanggapan komentar atas kebocoran limbah.

2. Penduduk di sepanjang sungai yang tercemar dilarang minum air dan makan ikan

Sungai yang tercemar limbah tambang berlian adalah Sungai Tshikapa. Politikus DRC yang bernama Eve Bazaiba telah melakukan kunjungan ke wilayah yang dialiri sungai di provinsi Kasai.

Pada hari Kamis, ia mengatakan bahwa pemerintah DRC akan meminta ganti rugi atas kerusakan yang telah disebabkan. Meski begitu, melansir Al Jazeera, dia belum mengatakan berapa banyak yang akan diminta.

Selain lingkungan yang rusak, limbah diduga telah membunuh 12 warga provinsi Kansai. Sebanyak 4.400 orang juga dilaporkan jatuh sakit akibat kebocoran limbah tersebut.

Dieudonne Pieme yang menjabat Gubernur provinsi Kasai telah melarang penduduknya agar tidak minum air dan makan ikan dari Sungai Tshikapa. Menurutnya, limbah telah secara signifikan menghabiskan populasi ikan di sungai tersebut.

3. Limbah ditakutkan mencemari sampai ibu kota Kinshasa

Sungai Kongo. (Wikimedia.org/MONUSCO/Myriam Asmani)

Saat ini, penyelidikan tentang kandungan limbah yang mencemari Sungai Tshikapa sedang dilakukan oleh peneliti dari University of Kinshasa’s Congo Basin Water Resources Research Center (CRREBaC).

Dalam keterangan yang dikutip oleh Mongabay, Gubernur Pieme juga telah menjelaskan bahwa "kami telah mengambil sampel air, ikan, dan tulang dari hewan air yang mati dan mengirimkannya ke laboratorium hewan Kinshasa untuk menentukan zat apa yang mengancam ekosistem," ujarnya.

Sungai Tshikapa sendiri adalah anak Sungai Kongo. Para peneliti yakin bahwa Sungai Kongo dapat memurnikan secara alami tapi ketakutan muncul tentang dampak buruk dari rancun limbah tambang berlian dari Angola.

Menurut Raphael Thshimanga, direktur CRREBaC, ketakutan keracunan dan hilangnya tumbuhan serta hewan air muncul karena pencemaran.

Masalah lain akan timbul seperti penyakit yang ditularkan melalui air bagi masyarakat di daerah tersebut, gangguan penangkapan ikan dan akses ke air yang jadi keperluan rumah tangga serta rekreasi.

Bahkan menurut Eve Bazaiba yang menjabat Menteri Lingkungan Hidup DRC, "tidak lagi di Kasai saja. Besok atau lusa, kami akan menemukan zat ini di Kinshasa, di Sungai Kongo," katanya khawatir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorPri Saja