Sungai Kongo. (Wikimedia.org/MONUSCO/Myriam Asmani)
Saat ini, penyelidikan tentang kandungan limbah yang mencemari Sungai Tshikapa sedang dilakukan oleh peneliti dari University of Kinshasa’s Congo Basin Water Resources Research Center (CRREBaC).
Dalam keterangan yang dikutip oleh Mongabay, Gubernur Pieme juga telah menjelaskan bahwa "kami telah mengambil sampel air, ikan, dan tulang dari hewan air yang mati dan mengirimkannya ke laboratorium hewan Kinshasa untuk menentukan zat apa yang mengancam ekosistem," ujarnya.
Sungai Tshikapa sendiri adalah anak Sungai Kongo. Para peneliti yakin bahwa Sungai Kongo dapat memurnikan secara alami tapi ketakutan muncul tentang dampak buruk dari rancun limbah tambang berlian dari Angola.
Menurut Raphael Thshimanga, direktur CRREBaC, ketakutan keracunan dan hilangnya tumbuhan serta hewan air muncul karena pencemaran.
Masalah lain akan timbul seperti penyakit yang ditularkan melalui air bagi masyarakat di daerah tersebut, gangguan penangkapan ikan dan akses ke air yang jadi keperluan rumah tangga serta rekreasi.
Bahkan menurut Eve Bazaiba yang menjabat Menteri Lingkungan Hidup DRC, "tidak lagi di Kasai saja. Besok atau lusa, kami akan menemukan zat ini di Kinshasa, di Sungai Kongo," katanya khawatir.