Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
45 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut akibat Konflik di Iran
Ilustrasi krisis pangan (unsplash.com/Joshua Onadipe)
  • WFP memperingatkan konflik bersenjata di Iran mengancam 45 juta orang dengan kelaparan akut akibat terganggunya jalur bantuan, pasokan energi, dan distribusi pangan global.
  • Kenaikan harga minyak hingga 100 dolar AS per barel membuat biaya pengiriman bantuan naik 18 persen, memaksa WFP memangkas jatah makanan karena kekurangan dana operasional.
  • Dampak perang memperburuk krisis gizi di Afrika dan Asia, terutama Somalia, Afghanistan, dan Sudan, dengan jutaan anak terancam kekurangan gizi serta meningkatnya jumlah pengungsi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Program Pangan Dunia (WFP) mengeluarkan peringatan resmi pada Selasa (17/3/2026), terkait ancaman krisis pangan global yang kian memburuk akibat konflik bersenjata di Iran. Hasil analisis terbaru menunjukkan bahwa ketegangan militer yang terus berlanjut berisiko memicu gelombang kelaparan baru bagi puluhan juta orang di berbagai negara.

Situasi kemanusiaan ini diperkirakan akan mencapai titik paling parah pada Juni mendatang jika pertempuran antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran tidak segera berhenti. Terganggunya jalur pasokan energi serta rute bantuan internasional menjadi penyebab utama yang memperburuk kondisi ketahanan pangan di tingkat dunia.

1. Serangan di Iran hambat jalur bantuan kemanusiaan dan pasokan pangan dunia

ilustrasi kapal kargo (pexels.com/Fatih Turan)

Serangan militer yang dimulai sejak 28 Februari 2026 telah menghambat jalur pelayaran penting untuk pengiriman bantuan kemanusiaan ke berbagai negara. Akibat penutupan jalur logistik utama ini, pengiriman bahan pangan dan obat-obatan bagi jutaan orang di wilayah konflik mengalami keterlambatan. Situasi tersebut memaksa lembaga bantuan internasional mencari jalan lain yang lebih jauh dan lebih berbahaya demi menyalurkan bantuan.

"Serangan AS-Israel terhadap Iran telah menghambat jalur bantuan utama, sehingga menunda pengiriman logistik bantuan kemanusiaan ke berbagai wilayah krisis terburuk di dunia," ujar Carl Skau, Wakil Direktur Eksekutif WFP, dilansir Free Malaysia Today.

Selain bantuan langsung, gangguan ini juga berdampak besar pada sektor pertanian. Selat Hormuz, yang mengalirkan 25 persen pasokan pupuk dunia, kini hanya bisa beroperasi secara terbatas. Hal ini mengancam hasil panen global karena kelangkaan bahan baku pupuk. Terputusnya jalur laut ini juga mengganggu hubungan perdagangan antara produsen energi di Timur Tengah dengan konsumen di Afrika dan Asia, yang akhirnya memicu kenaikan harga pangan di negara-negara pengimpor.

Laporan WFP mengonfirmasi bahwa kapal pengangkut bantuan kini harus menempuh perjalanan lebih lama untuk menghindari zona perang, sehingga waktu tunggu di pelabuhan bertambah hingga beberapa minggu. Keterlambatan ini berakibat fatal bagi negara seperti Sudan dan Afghanistan yang stok makanannya sudah sangat menipis. Ketidakpastian jadwal kirim ini juga menyulitkan pembagian bantuan di tingkat lokal, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil yang sangat bergantung pada bantuan rutin.

2. Biaya pengiriman bantuan pangan naik drastis

Ilustrasi kapal kargo yang membawa pupuk. (Unsplash.com/John Simmons)

Kenaikan harga minyak dunia yang menembus angka 100 dolar AS (Rp1,69 juta) per barel akibat perang telah meningkatkan biaya operasional pengiriman bantuan sebesar 18 persen. Lonjakan harga bahan bakar ini secara langsung mengurangi kemampuan finansial organisasi kemanusiaan untuk menjangkau masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan pangan darurat. Situasi ini diperparah oleh berubahnya prioritas anggaran negara-negara donor yang kini lebih fokus pada sektor pertahanan dibandingkan bantuan kemanusiaan.

"Analisis kami memproyeksikan jika konflik Timur Tengah berlanjut hingga Juni, 45 juta orang akan terancam kelaparan akut akibat lonjakan harga. Hal ini membawa tingkat kelaparan global ke rekor tertinggi sepanjang masa," ujar Carl Skau, dilansir The Japan Times.

Kenaikan biaya ini menyebabkan kekurangan anggaran yang besar bagi WFP, yang diperkirakan membutuhkan dana sebesar 13 miliar dolar AS (Rp220,81 triliun) untuk beroperasi pada tahun 2026. Data menunjukkan bahwa biaya bahan bakar untuk truk distribusi di lapangan melonjak sangat tinggi, sehingga organisasi terpaksa mengurangi jatah makanan bagi pengungsi demi menjaga operasional tetap berjalan.

3. Dampak perang di Iran picu krisis gizi buruk di Afrika dan Asia

Ilustrasi kelaparan. (Pixabay/billycm)

Wilayah Afrika Sub-Sahara dan Asia menjadi kawasan yang paling terancam mengalami krisis gizi buruk parah akibat dampak tidak langsung dari pertempuran di Iran. Di Somalia, terhentinya pasokan pupuk dan naiknya harga bibit memperburuk kondisi masyarakat yang sebelumnya sudah menderita akibat kekeringan panjang. Kurangnya bantuan internasional serta sulitnya jalur pengiriman menyebabkan banyak anak-anak di wilayah konflik, seperti Afghanistan, tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk bertahan hidup.

"Kelaparan mencapai titik terparah saat ini. Banyak warga di Afghanistan meninggal dunia akibat minimnya bantuan kemanusiaan yang dapat kami salurkan," ungkap Carl Skau, dilansir Korea Herald.

Jumlah orang yang mengalami kelaparan akut diprediksi melonjak dari 319 juta menjadi 364 juta jiwa. Hal ini menunjukkan rapuhnya sistem ketahanan pangan dunia dalam menghadapi guncangan perang. Di Sudan, pengurangan jatah makanan sudah berada pada tingkat yang membahayakan nyawa.

Krisis juga meluas ke Lebanon, di mana satu juta warga mengungsi akibat serangan udara dan pertempuran darat. Saat ini, WFP berupaya keras menyediakan makanan siap saji dan roti bagi puluhan ribu pengungsi, namun dana yang tersedia masih jauh dari kebutuhan sebesar 77 juta dolar AS (Rp1,3 triliun) untuk tiga bulan ke depan. Jika masyarakat dunia terlambat bertindak, jumlah kematian akibat kelaparan diperkirakan akan melebihi jumlah korban jiwa akibat pertempuran langsung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team