ilustrasi kapal kargo (pexels.com/Fatih Turan)
Serangan militer yang dimulai sejak 28 Februari 2026 telah menghambat jalur pelayaran penting untuk pengiriman bantuan kemanusiaan ke berbagai negara. Akibat penutupan jalur logistik utama ini, pengiriman bahan pangan dan obat-obatan bagi jutaan orang di wilayah konflik mengalami keterlambatan. Situasi tersebut memaksa lembaga bantuan internasional mencari jalan lain yang lebih jauh dan lebih berbahaya demi menyalurkan bantuan.
"Serangan AS-Israel terhadap Iran telah menghambat jalur bantuan utama, sehingga menunda pengiriman logistik bantuan kemanusiaan ke berbagai wilayah krisis terburuk di dunia," ujar Carl Skau, Wakil Direktur Eksekutif WFP, dilansir Free Malaysia Today.
Selain bantuan langsung, gangguan ini juga berdampak besar pada sektor pertanian. Selat Hormuz, yang mengalirkan 25 persen pasokan pupuk dunia, kini hanya bisa beroperasi secara terbatas. Hal ini mengancam hasil panen global karena kelangkaan bahan baku pupuk. Terputusnya jalur laut ini juga mengganggu hubungan perdagangan antara produsen energi di Timur Tengah dengan konsumen di Afrika dan Asia, yang akhirnya memicu kenaikan harga pangan di negara-negara pengimpor.
Laporan WFP mengonfirmasi bahwa kapal pengangkut bantuan kini harus menempuh perjalanan lebih lama untuk menghindari zona perang, sehingga waktu tunggu di pelabuhan bertambah hingga beberapa minggu. Keterlambatan ini berakibat fatal bagi negara seperti Sudan dan Afghanistan yang stok makanannya sudah sangat menipis. Ketidakpastian jadwal kirim ini juga menyulitkan pembagian bantuan di tingkat lokal, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil yang sangat bergantung pada bantuan rutin.