Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Perupa RI Hidupkan Narasi Pelayaran Abad-15 di Venice Biennale
Paviliun Indonesia hadir di Venice Biennale 2026 dengan pameran bertajuk “Printing the Unprinted”. (Dok. Istimewa)
  • Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 menampilkan pameran 'Printing the Unprinted' yang menghidupkan narasi pelayaran abad ke-15 melalui karya grafis tujuh perupa lintas generasi.
  • Karya-karya tersebut menggambarkan perjalanan imajiner armada Nusantara selama 14 tahun, dituangkan dalam 21 etsa yang terbagi menjadi tujuh babak dengan tema mulai dari diplomasi hingga refleksi spiritual.
  • Pameran ini menegaskan seni grafis sebagai ruang imajinasi kolektif dan memperlihatkan peran budaya Indonesia dalam membangun dialog global serta memperkuat posisi seni rupa nasional di dunia internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Paviliun Indonesia hadir di Venice Biennale 2026 dengan pameran bertajuk “Printing the Unprinted”. Bertempat di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia, pameran ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan, Danantara Indonesia Trust Fund, MTN Seni Budaya, dan Negeri Elok.

Di bawah kurasi Aminudin TH Siregar, tujuh perupa lintas generasi menampilkan kekuatan seni cetak grafis untuk menghidupkan kembali imajinasi sejarah melalui narasi pelayaran besar abad ke-15. Karya ini diciptakan secara secara bersama atas kolaborasi tujuh seniman, di antaranya Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.

Kisah ini berpusat pada perjalanan armada Nusantara selama 14 tahun (1472-1486), yang didokumentasikan oleh sosok arsiparis imajiner, Datu Na Tolu Hamonangan.

Melalui manuskrip Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage, dia mencatat perjalanan tiga kapal legendaris: Siboru Deak Parujar (kapal induk), Naga Padoha (pengawal), dan Sahala ni Ombak (penjelajahan ilmiah). Seluruh rangkaian perjalanan dari Danau Toba hingga Eropa ini dituangkan ke dalam 21 etsa yang terbagi dalam tujuh babak narasi.

1. Tujuh babak penjelajahan Banua Tonga

Babak pertama mengangkat tema Sacred Authority and Diplomacy melalui karya Agus Suwage. Dalam tiga etsa berjudul The Oath at Pusuk Buhit, Audience at the Republic of Batu, dan Return to the Mountain of Origin, dikisahkan tekad Raja Uti Marbun Pusuk dalam membuktikan negeri di balik cakrawala sebagai bagian dari dunia yang sama (Banua Tonga). Setelah belasan tahun, dia kembali ke puncak gunung dengan keyakinan terhadap posisi Eropa sebagai bagian dari semesta mereka.

​Babak kedua bertema Sea Power and Navigation hasil visualisasi R.E. Hartanto. Melalui karya Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472), Storm Off Hormuz, dan The Aging Admiral’s Face, kita mengenal Admiral Mangaraja Laut Mangiring. Dia memimpin armada multietnis melintasi Selat Hormuz dan pulang dengan rambut memutih, membawa pengetahuan mengenai peran laut sebagai penyambung dunia-dunia yang jauh.

​Babak ketiga menggambarkan sosok Sang Navigator dengan tema Maps and Astronomy karya Syahrizal Pahlevi. Dalam etsa Rewriting the Circle of the World, Library of Florence, dan The Inversion of the World Map, sang navigator merancang ulang peta dunia berlandaskan pengetahuan astrolab Islam. Dia menempatkan Danau Toba sebagai pusat, sehingga Eropa tampak hanya sebagai semenanjung kecil di tepian dunia tak berbatas.

​Babak keempat menceritakan Sang Naturalis dalam tema Flora and Fauna oleh Rusyan Yasin. Melalui karya Camphor Specimens and Andalas Wood, Encounters in the Alps, dan Garden of Two Climates, dikisahkan pendokumentasian flora luar negeri. Meski bibit anggur bawaannya sulit tumbuh di khatulistiwa, ia berhasil mencangkokkan apel di dataran tinggi Batak hingga membentuk perkebunan baru.

​Babak kelima bertajuk Faces and Culture oleh Mariam Sofrina, yang menyoroti sisi kemanusiaan dalam pelayaran. Etsa Port of Malacca, Winter Market in Venice, dan West Gorga menggambarkan perjumpaan lintas budaya; mulai dari pertukaran bahasa di Malaka hingga kekaguman anak-anak Eropa saat melihat tato pelaut Batak di pasar musim dingin Venesia.

​Babak keenam mengeksplorasi Technology and Symbolism melalui karya Nurdian Ichsan. Dalam etsa Forging Iron at Lake Toba, Glass and Mechanical Clocks, dan The Hybrid Emblem of Harajaon, ditampilkan proses adaptasi teknologi kaca patri serta jam mekanis Eropa oleh perajin Batak. Hasilnya adalah segel kerajaan baru dengan perpaduan motif Gorga dan simbol heraldik Eropa.

​Babak ketujuh ditutup dengan Spiritual Reflection oleh Theresia Agustina Sitompul. Melalui karya Pre-Departure Ritual, Cathedral and the Echo of Gondang, dan Return to Silence, dia menggambarkan perjalanan batin kaum intelektual. Seorang filsuf Batak yang mendengarkan harmoni katedral di Venesia menyimpulkan makna penemuan bukan soal kepemilikan, melainkan pengakuan atas seluruh daratan dunia yang saling terjalin.

2. Proses kreatif dan pengembangan karya

Paviliun Indonesia hadir di Venice Biennale 2026 dengan pameran bertajuk “Printing the Unprinted”. (Dok. Istimewa)

Selama program residensi, para perupa tidak hanya menyelesaikan etsa berdasarkan manuskrip fiksi tersebut, tetapi juga menciptakan karya individual di Venesia.

Beberapa karya yang telah dirancang di Indonesia disempurnakan langsung di lokasi pameran, merespons ruang di Scuola Internazionale di Grafica serta pengalaman sensorik para seniman saat menjelajahi kota Venesia.

3. Seni grafis sebagai ruang imajinasi kolektif

6. Sansan. (Dok. Istimewa)

“Printing the Unprinted” bukan sekadar pameran teknik cetak, melainkan sebuah upaya pembacaan ulang terhadap sejarah dan pengetahuan Nusantara. Dengan memadukan mitologi, arsip, dan narasi pelayaran, Paviliun Indonesia mengajak publik internasional melihat Indonesia sebagai pusat gagasan yang aktif membangun dialog global.

Keikutsertaan ini mempertegas peran kebudayaan sebagai jembatan pertukaran ide sekaligus memperkuat posisi seni rupa Indonesia di kancah internasional.

Editorial Team