1. Karya Agus Suwage. (Dok. Istimewa)
2. Karya R.E. Hartanto. (Dok. Istimewa)
3. Kaeya Syahrizal Pahlevi. (Dok. Istimewa)
4. Karya Rusyan Yasin. (Dok. Istimewa)
5. Karya Mariam Sofrina. (Dok. Istimewa)
6. Karya Nurdian Ichsan. (Dok. Istimewa)
7. Karya Theresia Agustina Sitompul. (Dok. Istimewa)
Babak pertama mengangkat tema Sacred Authority and Diplomacy melalui karya Agus Suwage. Dalam tiga etsa berjudul The Oath at Pusuk Buhit, Audience at the Republic of Batu, dan Return to the Mountain of Origin, dikisahkan tekad Raja Uti Marbun Pusuk dalam membuktikan negeri di balik cakrawala sebagai bagian dari dunia yang sama (Banua Tonga). Setelah belasan tahun, dia kembali ke puncak gunung dengan keyakinan terhadap posisi Eropa sebagai bagian dari semesta mereka.
Babak kedua bertema Sea Power and Navigation hasil visualisasi R.E. Hartanto. Melalui karya Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472), Storm Off Hormuz, dan The Aging Admiral’s Face, kita mengenal Admiral Mangaraja Laut Mangiring. Dia memimpin armada multietnis melintasi Selat Hormuz dan pulang dengan rambut memutih, membawa pengetahuan mengenai peran laut sebagai penyambung dunia-dunia yang jauh.
Babak ketiga menggambarkan sosok Sang Navigator dengan tema Maps and Astronomy karya Syahrizal Pahlevi. Dalam etsa Rewriting the Circle of the World, Library of Florence, dan The Inversion of the World Map, sang navigator merancang ulang peta dunia berlandaskan pengetahuan astrolab Islam. Dia menempatkan Danau Toba sebagai pusat, sehingga Eropa tampak hanya sebagai semenanjung kecil di tepian dunia tak berbatas.
Babak keempat menceritakan Sang Naturalis dalam tema Flora and Fauna oleh Rusyan Yasin. Melalui karya Camphor Specimens and Andalas Wood, Encounters in the Alps, dan Garden of Two Climates, dikisahkan pendokumentasian flora luar negeri. Meski bibit anggur bawaannya sulit tumbuh di khatulistiwa, ia berhasil mencangkokkan apel di dataran tinggi Batak hingga membentuk perkebunan baru.
Babak kelima bertajuk Faces and Culture oleh Mariam Sofrina, yang menyoroti sisi kemanusiaan dalam pelayaran. Etsa Port of Malacca, Winter Market in Venice, dan West Gorga menggambarkan perjumpaan lintas budaya; mulai dari pertukaran bahasa di Malaka hingga kekaguman anak-anak Eropa saat melihat tato pelaut Batak di pasar musim dingin Venesia.
Babak keenam mengeksplorasi Technology and Symbolism melalui karya Nurdian Ichsan. Dalam etsa Forging Iron at Lake Toba, Glass and Mechanical Clocks, dan The Hybrid Emblem of Harajaon, ditampilkan proses adaptasi teknologi kaca patri serta jam mekanis Eropa oleh perajin Batak. Hasilnya adalah segel kerajaan baru dengan perpaduan motif Gorga dan simbol heraldik Eropa.
Babak ketujuh ditutup dengan Spiritual Reflection oleh Theresia Agustina Sitompul. Melalui karya Pre-Departure Ritual, Cathedral and the Echo of Gondang, dan Return to Silence, dia menggambarkan perjalanan batin kaum intelektual. Seorang filsuf Batak yang mendengarkan harmoni katedral di Venesia menyimpulkan makna penemuan bukan soal kepemilikan, melainkan pengakuan atas seluruh daratan dunia yang saling terjalin.