Wilayah Savannah, tempat ledakan itu itu terjadi, telah berada dalam keadaan darurat sejak 13 Juni setelah Presiden Faure Gnassingbe mengeluarkan dekrit. Kebijakan itu merupakan respons Togo atas dua serangan yang membunuh tentaranya.
"Keputusan itu diambil setelah dua serangan teroris yang terjadi di bagian utara negara ini dalam kurun waktu enam bulan (November 2021 dan Mei 2022) terhadap Operasi Koundjoare," kata Presiden Faure saat mengeluarkan dekrit.
Tiga hari setelah keadaan darurat diumumkan, pihak kemanan berhasil menggagalkan sebuah serangan di Gnoaga dan Gouloungoushi, di perbatasan bersama Togo, Ghana, dan Burkina Faso. Pasukan keamanan pada November tahun lalu juga berhasil menggagalkan serangan kelompok bersenjata tak dikenal, yang diyakini pemerintah berasal dari Burkina Faso.
Sebuah serangan terhadap tentara terjadi pada 10 Mei, yang menyebabkan delapan tentara tewas dan 13 terluka. Serangan itu menargetkan pos keamanan di Kpendjal di wilayah sabana.
Tiga minggu setelah serangan 10 Mei, sebuah organisasi dari Amerika Serikat yang melacak ancaman ekstremis secara daring, Site Intelligence Group, menyampaikan bahwa sebuah kelompok teroris yang berafiliasi dengan Al-Qaeda mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, dikutip dari Anadolu Agency.