Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alireza Arafi, Sosok Kunci di Balik Kepemimpinan Sementara Iran
Alireza Aarafi ( Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Alireza Arafi, ulama asal Qom, tiba-tiba jadi sorotan dunia setelah Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada Februari 2026.
  • Arafi dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Al-Mustafa International University, jaringan pendidikan global yang disebut berperan dalam penyebaran ideologi revolusi Iran.
  • Pasca wafatnya Khamenei, Arafi duduk di dewan kepemimpinan sementara Iran dan disebut sebagai kandidat potensial Pemimpin Tertinggi berikutnya meski minim pengalaman politik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Namanya mendadak jadi sorotan dunia setelah Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Tapi bagi sebagian besar pengamat internasional, Alireza Arafi adalah wajah baru yang belum banyak dikenal.

Bukan tokoh militer, bukan pula politikus senior, ia adalah seorang ulama yang naik pelan-pelan dari kota suci Qom. Kini, Arafi duduk di jantung kekuasaan Iran yang paling labil dalam sejarahnya.

Berikut profil Alireza Arafi!

Dari penjara di usia 16 tahun hingga jadi tangan kanan Khamenei

Alireza Arafi (lahir 1959, Meybod) adalah ulama Syiah Iran, Ketua Universitas Internasional Al-Mustafa, pemimpin salat Jumat Qom, dan kepala seminari Iran. ( Mostafameraji, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Arafi lahir pada 1959 di Meybod, Provinsi Yazd, dari keluarga klerus yang konon merupakan keturunan Zoroastrian yang memeluk Islam pada abad ke-19. Pada usia 12 tahun, ia sudah pindah ke Qom untuk mendalami ilmu-ilmu Islam. Tapi jalan hidupnya bukan tanpa risiko.

Menurut klaim di situs resminya sendiri (arafi.ir) yang kemudian dikutip sejumlah media seperti Al Arabiya dan Dawn, ia pernah dijebloskan ke penjara pada usia 16 tahun karena menentang kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Klaim ini hingga kini belum diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga mana pun.

Setelah Revolusi Islam, nama Arafi perlahan naik ke permukaan. Pada 1992, di usia 33 tahun, ia ditunjuk Khamenei sebagai imam salat Jumat di kampung halamannya, sebuah penunjukan yang terbilang sangat muda dan menjadi sinyal kuat kepercayaan sang pemimpin tertinggi kepadanya.

Hubungan keduanya semakin erat ketika pada 2002, Khamenei menyetujui proposalnya untuk mendirikan universitas internasional pelatihan ulama Syiah, yang kemudian dikenal sebagai Al-Mustafa International University. Arafi menjadi dekan pertamanya, dilaporkan Middle East Institute.

2. Arsitek "Ekspor Revolusi" lewat jalur pendidikan

Alireza Arafi (lahir 1959, Meybod) adalah ulama Syiah Iran, Ketua Universitas Internasional Al-Mustafa, pemimpin salat Jumat Qom, dan kepala seminari Iran. ( Mostafameraji, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Di sinilah pengaruh Arafi yang sesungguhnya terbentuk. Di bawah kepemimpinannya, Al-Mustafa berkembang menjadi jaringan raksasa dengan lebih dari 80 cabang di luar negeri dan lebih dari 14.000 mahasiswa aktif, baik daring maupun tatap muka. Ini bukan sekadar kampus agama biasa. Menurut Jason Brodsky, Direktur Kebijakan United Against Nuclear Iran, yang dikutip Newsweek, Arafi menjadikan Al-Mustafa sebagai tempat pelatihan dan perekrutan IRGC, yang kemudian membuat institusi ini masuk daftar sanksi pemerintah AS berdasarkan undang-undang antiterorisme.

Ben Sabti, pakar Iran dari Institute of National Security Studies Israel, menyebutnya kepada Newsweek sebagai "bagian dari ekspor revolusi dari sisi propaganda." Arafi bukan tipe komandan lapangan, melainkan perancang ideologi jangka panjang. Ia membangun pengaruh lewat jaringan pendidikan, bukan senjata.

Pada 2015, ia dipercaya menjadi imam Jumat di Qom, posisi dengan resonansi nasional dan internasional. Setahun kemudian, ia diangkat sebagai kepala jaringan pesantren nasional Iran, mengawasi pendidikan agama di seluruh penjuru negeri.

3. Akankah ia jadi pemimpin tertinggi menggantikan Khamenei?

Alireza Arafi (lahir 1959, Meybod) adalah ulama Syiah Iran, Ketua Universitas Internasional Al-Mustafa, pemimpin salat Jumat Qom, dan kepala seminari Iran. ( Mostafameraji, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Pasca tewasnya Khamenei, Iran mengaktifkan Pasal 111 konstitusinya, membentuk dewan kepemimpinan sementara beranggotakan tiga orang. Arafi duduk di sana bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, sebagaimana dilaporkan Al Arabiya dan Fox News. Dari ketiganya, Arafi disebut Middle East Institute sebagai yang paling minim pengalaman politik langsung, tapi juga satu-satunya yang tidak pernah secara publik dikaitkan dengan penumpasan kekerasan selama gelombang protes Januari.

Banyak pengamat dan aktivis diaspora Iran menduganya sebagai kandidat kuat Pemimpin Tertinggi berikutnya. Tapi jalannya tidak mulus. Untuk menduduki posisi itu, ia harus dinominasikan oleh komite dalam Majelis Ahli, dengan kuorum dua pertiga dari 88 anggota, dan disetujui dua pertiga dari yang hadir. Lebih dari itu, ada satu kelemahan simbolis yang tak bisa diabaikan: Arafi bukan seorang Sayyid, gelar bagi keturunan Nabi Muhammad yang sangat dihormati dalam tradisi Syiah, dan ia tidak pernah memimpin satu pun cabang aparatus militer-keamanan Republik Islam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team