Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alutsista RI Makin Dilirik, Filipina Jadi Target Utama
Joint press statement Menlu RI Sugiono dan Menlu Filipina Ma Theresa P. Lazaro usai pertemuan JCBC ke-8 di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta. (IDN Times/Marcheilla)
  • Indonesia dan Filipina menegaskan arah baru kerja sama strategis mencakup sektor pertahanan hingga isu kemanusiaan di perbatasan melalui pertemuan JCBC ke-8 di Jakarta.
  • Pemerintah Indonesia mendorong ekspor alutsista buatan dalam negeri ke Filipina, menandai meningkatnya posisi industri pertahanan nasional di pasar regional.
  • Produk PT Dirgantara Indonesia sudah digunakan militer Filipina, membuka peluang pengadaan alat pertahanan lebih luas serta pembahasan kerja sama lain seperti pembayaran QR dan energi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Indonesia mempertegas arah baru kerja sama strategis dengan Filipina, mulai dari sektor pertahanan hingga isu kemanusiaan di wilayah perbatasan. Komitmen ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri RI Sugiono dalam pertemuan Joint Commission on Bilateral Cooperation (JCBC) ke-8 di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Indonesia mendorong perluasan ekspor alat utama sistem persenjataan (alutsista) produksi dalam negeri ke Filipina. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa industri pertahanan nasional mulai mendapatkan tempat di pasar regional.

Sugiono mengungkapkan produk industri pertahanan Indonesia telah digunakan oleh militer Filipina, menjadi pijakan awal untuk memperluas kerja sama ke depan. Salah satu contohnya adalah pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

“Ada pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia yang dipakai oleh pihak Filipina dan itu yang terus ingin kita tingkatkan kerja samanya,” ujar Sugiono.

Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya berhenti pada penggunaan atau pemeliharaan alutsista yang sudah ada. Indonesia juga membuka peluang lebih luas bagi Filipina untuk melakukan pengadaan alat pertahanan dari dalam negeri.

“Kemudian kita juga menawarkan kemungkinan-kemungkinan untuk mereka bisa procure alat pertahanannya dari Indonesia. Tentu saja itu semua melalui mekanisme internalnya dia,” lanjutnya.

Selain pertahanan, sejumlah isu yang dibahas dalam JCBC ke-8 ini antara lain mengenai pembayaran QR juga energi.

Editorial Team