Ilustrasi koin fisik yang merupakan repsentasi dari mata uang virtual Bitcoin. (Unsplash.com/André François McKenzie)
Dilansir SKY News, FBI berhasil merebut uang tebusan dalam bentuk 63,7 Bitcoin atau senilai sekitar 2,3 juta dolar (Rp32,7 miliar). FBI berhasil melakukannya dengan memperoleh kunci pribadi untuk membuka dompet Bitcoin para peretas.
Keberhasilan FBI ini diumumkan oleh Wakil Jaksa Agung Lisa Monaco, dia mengatakan.
"DarkSide dan afiliasinya telah secara digital menguntit perusahaan AS untuk bagian yang lebih baik tahun lalu dan tanpa pandang bulu menyerang korban yang termasuk pemain kunci dalam infrastruktur negara ini. Hari ini kami membalikkan keadaan di DarkSide dengan mengejar seluruh ekosistem yang memicu ransomware dan pemerasan digital termasuk hasil kejahatan dalam bentuk mata uang digital. Kami akan terus menggunakan semua alat dan sumber daya kami untuk meningkatkan biaya dan konsekuensi dari serangan ransomware." Monaco mengatakan itu adalah operasi pertama oleh satuan tugas ransomware dan pemerasan digital yang baru-baru ini dibuat.
Serangan siber terhadap Colonial Pipeline membuat jalur pipa yang membentang dari Texas ke New York, menyediakan bahan bakar untuk sebagian besar pantai timur AS berhenti beroperasi. Pasokan yang terganggu menyebabkan harga melonjak ke level tertinggi dalam hampir tujuh tahun. North Carolina memasuki keadaan darurat dan beberapa pompa bensin di Virginia kehabisan bahan bakar. Orang-orang didesak untuk tidak membeli secara berlebihan, tapi banyak warga yang tidak peduli dengan himbauan tersebut karena takut kekurangan bahan bakar.
Dilansir BBC, dalam sebuah pernyataan kepala eksekutif Colonial Pipeline, Joseph Blount mengatakan perusahaannya berterima kasih atas "kerja cepat dan profesionalisme" FBI, yang membantu memulihkan uang tebusan.
"Menuntut pertanggungjawaban penjahat dunia maya dan mengganggu ekosistem yang memungkinkan mereka beroperasi adalah cara terbaik untuk mencegah dan mempertahankan diri dari serangan di masa depan," tambahnya.