Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Sanksi Senator Kamboja soal Skandal Penipuan Kripto
Kripto (freepik.com/freepik)
  • Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Senator Kamboja Kok An dan 28 entitas terkait karena diduga memfasilitasi jaringan penipuan kripto lintas negara yang merugikan warga AS jutaan dolar.
  • Kok An dituduh menggunakan bisnisnya seperti Crown Resorts dan Anco Group untuk menyediakan fasilitas, keamanan, serta infrastruktur bagi operasi penipuan dan eksploitasi pekerja migran di Kamboja.
  • Pemerintah AS melalui Scam Center Strike Force membekukan aset, menyita lebih dari 500 domain web, dan menegaskan komitmen memberantas jaringan penipuan digital yang melibatkan perdagangan manusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) melalui Departemen Keuangan secara resmi menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Kok An, seorang senator Kamboja dan pengusaha yang dikenal sebagai sekutu Presiden Senat Kamboja, Hun Sen, pada Kamis (23/4/2026).

Langkah ini diambil karena ia diduga terlibat dalam memfasilitasi jaringan pusat penipuan transnasional yang mengakibatkan kerugian warga negara AS hingga jutaan dolar AS melalui skema penipuan asmara berbasis aset kripto.

Sanksi tersebut tidak hanya ditujukan kepada Kok An secara pribadi, tetapi juga kepada 28 individu dan entitas bisnis lain yang beroperasi di Asia Tenggara. Operasi penegakan hukum ini menyoroti penyalahgunaan teknologi kripto oleh sindikat kriminal untuk mencuci uang, serta melibatkan warga AS yang kehilangan asetnya dan pekerja migran yang menjadi korban kerja paksa di kompleks perkantoran tersebut.

1. Peran Kok An dalam memfasilitasi penipuan

Senator Kok An diduga memanfaatkan posisi politik dan finansialnya untuk memfasilitasi kompleks bangunan yang dijadikan pusat penipuan digital di wilayah Kamboja, seperti kota Poipet, Sihanoukville, dan Bavet. Melalui perusahaannya, Crown Resorts, ia memiliki dan mengelola kasino serta kawasan perkantoran yang direnovasi untuk menampung para operator penipuan.

"Kok An dan rekan-rekannya telah menjalankan dan mengambil keuntungan dari tempat penipuan yang menyasar warga AS. Mereka juga sering memanfaatkan korban perdagangan manusia yang dipaksa melanggar hukum di bawah ancaman kekerasan," kata perwakilan Departemen Luar Negeri AS, dilansir Arab News.

Jaringan bisnis Kok An yang dijatuhi sanksi mencakup berbagai bidang, mulai dari perbankan melalui Anco Specialized Bank Ltd hingga penyedia infrastruktur seperti Anco Water Supply Co Ltd dan Khmer Electrical Power Co Ltd, yang memasok kebutuhan logistik kompleks penipuan tersebut. Perusahaan lain seperti 855 Investment Corporation dan Mekong Potable Water Construction Import Export Co Ltd juga diidentifikasi sebagai bagian dari struktur pencucian uang dan operasional yang mendukung organisasi kriminal ini.

"Kok An adalah pemilik properti ini melalui Crown Resorts dan menerima uang sewa dari penghuninya. Ia juga menyediakan layanan keamanan berseragam melalui Anco Brothers Co Ltd untuk menjaga kompleks kriminal tersebut," kata perwakilan Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC).

2. Cara penipu menjebak korban dan pekerja migran

Skema penipuan ini menggunakan teknik manipulasi psikologis yang disebut pig butchering. Para pelaku menjalin hubungan persahabatan atau asmara palsu dengan korban selama berbulan-bulan melalui aplikasi pesan singkat dan media sosial, kemudian membujuk mereka untuk berinvestasi kripto fiktif. Pelaku menjanjikan keuntungan pada platform perdagangan digital yang dikendalikan oleh sindikat tersebut untuk mengambil alih seluruh aset korban setelah dana ditransfer.

"Dalam beberapa kasus, orang yang melakukan penipuan ini adalah korban perdagangan manusia yang dipaksa melanggar hukum dengan ancaman kekerasan. Jaringan pusat penipuan Kok An menjadi tempat berkumpul untuk menyasar warga AS dan melanggar hak asasi manusia," kata perwakilan OFAC, dilansir Fine Day Radio.

Kasus ini menimbulkan kerugian finansial bagi korban di AS serta melibatkan orang dari berbagai negara yang dipekerjakan secara paksa di dalam bangunan milik Kok An. Para pekerja migran ini direkrut dengan tawaran pekerjaan di bidang teknologi informasi, tetapi setelah tiba di lokasi, paspor mereka disita. Mereka kemudian dipaksa bekerja untuk mencapai target penipuan tertentu dengan ancaman kekerasan fisik atau dijual ke sindikat lain jika gagal.

3. Langkah penyitaan aset oleh aparat AS 

Sanksi ini adalah bagian dari operasi terpadu yang melibatkan Scam Center Strike Force, yang terdiri dari FBI, Dinas Rahasia AS (USSS), dan Departemen Kehakiman. Operasi ini bertujuan untuk menghentikan infrastruktur digital dan operasional keuangan para pelaku.

Selain membekukan aset Kok An dan 28 entitas terkait, pihak berwenang menyita lebih dari 500 domain web untuk penipuan dan aplikasi pesan sosial yang digunakan untuk merekrut korban. 

"Memberantas penipuan adalah prioritas utama pemerintah. Departemen Keuangan akan terus mengejar para penipu dan tempat penipuan yang mencuri uang dari warga AS, tanpa memandang lokasi atau seberapa kuat koneksi politik mereka," kata Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team