Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Sebut Perusahaan China Diam-diam Mau Jual Senjata ke Iran
potret rudal (unsplash.com/Gabor Szuts)
  • Pemerintah AS mengungkap rencana rahasia perusahaan China menjual senjata ke Iran, dengan komunikasi intens antara kedua pihak namun tanpa menyebut nama perusahaan terkait.
  • Pengiriman senjata disebut akan dilakukan lewat negara di Afrika untuk menyamarkan asalnya, sementara jenis dan jumlah senjata masih belum diketahui secara pasti.
  • Jika terbukti memasok senjata ke Iran, China berisiko terkena tarif dagang 50 persen dari AS, meski sebelumnya mereka membantah tuduhan serupa terkait sistem pertahanan udara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat menyebut perusahaan asal China sedang berencana untuk menjual senjata secara rahasia ke Iran. Kabar itu disampaikan oleh seorang pejabat AS kepada New York Times, Rabu (13/5/2026). 

Berdasarkan info intelijen AS, Pemerintah Iran kini sedang melakukan komunikasi intens dengan perusahaan China yang akan menjadi pemasok senjata. Namun, tidak disebutkan nama dari perusahaan tersebut. 

1. Perusahaan China akan mengirim senjata ke Iran lewat negara di Afrika

potret negara-negara di Benua Afrika (pexels.com/Nothing Ahead)

Menurut pejabat AS, perusahaan China akan mengirim senjata ke Iran lewat pihak ketiga. Langkah ini bertujuan agar pengiriman tidak diketahui oleh AS dan menyembunyikan dari mana senjata tersebut berasal.  

Pejabat tersebut menambahkan, China akan mengirim senjata secara rahasia ke Iran lewat negara di Benua Afrika. Namun, hingga kini, belum ada informasi detail soal negara mana yang dimaksud. 

Saat ini, belum diketahui secara pasti jenis dan berapa jumlah senjata yang akan dikirim perusahaan China ke Iran. Kendati begitu, beberapa sumber menyebut jumlahnya bisa sangat banyak.

2. China bisa terkena tarif dagang 50 persen jika memasok senjata ke Iran

ilustrasi tarif dagang Amerika Serikat (pexels.com/Markus Winkler)

Jika laporan intelijen AS tadi benar, maka China bisa terkena tarif dagang tinggi dari AS. Sebab, Presiden AS, Donald Trump, pada April lalu menegaskan akan memberikan tarif dagang sebesar 50 persen kepada negara mana pun yang memasok senjata ke Iran.

“Negara yang memasok senjata militer ke Iran akan langsung dikenakan tarif untuk semua barang yang dijual ke Amerika Serikat sebesar 50 persen. (Tarif ini akan) segera berlaku. Tidak akan ada pengecualian atau pembebasan!” tulis Trump di laman Truth Social pribadinya, seperti dilansir Al Jazeera.

Oleh karena itu, sejumlah pengamat meminta China untuk waspada. Sebab, tarif dagang 50 persen dari AS bisa berdampak pada perekonomian mereka.

“Menurut saya, ini adalah ancaman yang terkait dengan China. China pun akan menafsirkannya seperti itu,” kata Wakil Presiden dan Ketua Bidang Ekonomi Internasional Atlantic Council, Josh Lipsky. 

3. China pernah dilaporkan akan mengirim sistem pertahanan udara ke Iran

ilustrasi sistem pertahanan udara (pexels.com/Shuaizhi Tian)

Pada April lalu, intelijen AS pernah melaporkan bahwa China akan mengirim sistem pertahanan udara ke Iran. Namun, China membantah laporan tersebut. Mereka menegaskan tidak berencana memasok senjata ke negara mana pun, terutama ke negara yang sedang terlibat konflik di Timur Tengah. 

“China tidak pernah menyediakan senjata kepada pihak mana pun yang terlibat dalam konflik. Informasi yang dimaksud tidak benar. Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China secara konsisten memenuhi kewajiban internasionalnya,” bunyi pernyataan Kedutaan Besar China di Washington D.C. dilansir Jerusalem Post.

“Kami mendesak pihak AS untuk menahan diri dari membuat tuduhan tanpa dasar, membuat hubungan yang tidak berdasar, dan terlibat dalam sensasionalisme. Kami berharap pihak-pihak terkait akan berbuat lebih banyak untuk membantu meredakan ketegangan,” lanjut pernyataan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team