Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AH-64E Apache
AH-64E Apache (U.S. Army photo by Capt. Jesse Paulsboe, Public domain, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Israel beli 30 helikopter Apache hingga ribuan kendaraan taktis.

  • Pemerintahan Trump dituduh melangkahi wewenang Kongres.

  • AS juga jual 730 unit rudal Patriot ke Arab Saudi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyetujui penjualan senjata besar-besaran ke Israel senilai 6,67 miliar dolar AS (sekitar Rp111,8 triliun) dan Arab Saudi senilai 9 miliar dolar AS (sekitar Rp150 triliun). Pengumuman disampaikan pada Jumat malam (30/1/2026) waktu setempat di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Paket bantuan militer terbaru disepakati saat pemerintahan Presiden Donald Trump berusaha mendorong rencana gencatan senjata di Gaza. Transaksi jumbo tersebut mencakup armada helikopter serang canggih hingga ribuan kendaraan logistik darat yang bertujuan memperkuat pertahanan sekutu AS di Timur Tengah.

1. Israel beli 30 helikopter Apache hingga ribuan kendaraan taktis

Joint Light Tactical Vehicles (U.S. Army photo by Jason Johnston, Public domain, via Wikimedia Commons)

Porsi terbesar dari kesepakatan bernilai 3,8 miliar dolar AS (sekitar Rp63 triliun) dialokasikan untuk pengadaan 30 unit helikopter serang AH-64E Apache. Kontraktor utama dalam proyek pengadaan helikopter bermesin ganda ini adalah pabrikan Boeing dan Lockheed Martin.

Kementerian Luar Negeri AS juga memberikan lampu hijau untuk pembelian 3.250 unit Joint Light Tactical Vehicles (JLTV). Kendaraan taktis ringan buatan AM General LLC ditaksir menelan biaya sekitar 1,98 miliar dolar AS (Rp33 triliun) beserta peralatan pendukungnya.

Sisa anggaran digunakan untuk modernisasi armada darat melalui pembelian power packs pengangkut personel lapis baja (APC) Namer senilai 740 juta dolar AS (sekitar Rp12,4 triliun). Israel juga menggelontorkan dana tambahan 150 juta dolar AS (Rp2,5 triliun) untuk sejumlah helikopter utilitas ringan guna melengkapi alutsista yang sudah ada.

"Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Israel untuk menghadapi ancaman saat ini dan masa depan dengan meningkatkan mobilitas pasukan daratnya selama operasi," kata Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan AS, dilansir Press TV.

2. Pemerintahan Trump dituduh melangkahi wewenang Kongres

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Keputusan eksekutif meloloskan paket bantuan militer menuai kecaman dari kubu Demokrat di parlemen. Pemerintahan Trump dinilai sengaja mengumumkan kesepakatan secara mendadak untuk menghindari pengawasan standar dari komite legislatif yang berwenang.

Perwakilan Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri DPR AS, Gregory Meeks, menuding Gedung Putih telah mengabaikan prosedur tinjauan informal yang berlaku selama bertahun-tahun. Meeks mengaku baru diberitahu hanya satu jam sebelum pengumuman resmi dirilis ke publik.

Langkah semacam ini bukan kali pertama dilakukan dalam pengiriman senjata ke negara sekutu di tengah konflik. Sebelumnya, pemerintahan Trump tercatat pernah menggunakan wewenang darurat untuk mempercepat aliran senjata tanpa melalui tinjauan komite.

"Pemerintahan Trump secara terang-terangan mengabaikan hak prerogatif Kongres yang sudah lama ada, sekaligus menolak melibatkan Kongres dalam pertanyaan kritis tentang langkah selanjutnya di Gaza," tegas Gregory Meeks, dilansir The Times of Israel.

3. AS juga jual 730 unit rudal Patriot ke Arab Saudi

ilustrasi bendera Arab Saudi. (unsplash.com/ Akhilesh Sharma)

AS secara terpisah menyetujui penjualan 730 unit rudal Patriot ke Arab Saudi dengan nilai fantastis mencapai 9 miliar dolar AS (sekitar Rp150 triliun). Kesepakatan bertujuan memperkuat sistem pertahanan udara dan rudal terintegrasi Riyadh di tengah ancaman serangan balasan dari Iran.

Pengumuman ini muncul setelah pertemuan Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman, dengan pejabat tinggi AS seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Penjualan diklaim akan melindungi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk Persia.

Aliran senjata terus mengalir meski korban jiwa di pihak Palestina terus bertambah akibat agresi militer Israel yang menggunakan alutsista buatan AS. Data otoritas kesehatan setempat mencatat lebih dari 71.500 warga Palestina tewas dan ratusan ribu lainnya terluka sejak konflik pecah.

Helikopter Apache yang masuk dalam daftar belanja terbaru diketahui kerap digunakan pasukan Israel dalam operasi militer di Tepi Barat dan Gaza. Kelompok hak asasi manusia berulang kali mendesak Washington menghentikan pengiriman senjata yang memicu tingginya angka kematian warga sipil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team