Jakarta, IDN Times - Rudal-rudal Iran menghantam kota Arad dan Dimona, yang berada di dekat pusat penelitian nuklir Israel. Iran menyebut, serangan itu merupakan respons atas serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Natanz di Provinsi Isfahan.
Sedikitnya 180 orang terluka dalam serangan Sabtu (21/3/2026), dan ratusan warga dievakuasi dari kota-kota strategis tersebut. Perkembangan ini menandai bahwa perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran memasuki fase baru yang lebih mematikan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya mengalami malam yang sangat sulit dalam pertempuran untuk masa depan. Kementerian Kesehatan Israel mencatat sedikitnya 4.564 orang terluka sejak perang dimulai 28 Februari.
Para analis menilai, meskipun Israel sering melancarkan operasi militer di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, dan wilayah lain, jarang sekali publik Israel merasakan dampak perang secara langsung seperti dalam tiga pekan terakhir.
Di wilayah Palestina, termasuk Gaza, pasukan Israel disebut menggunakan kekuatan tidak seimbang terhadap kelompok bersenjata yang hanya memiliki roket sederhana. Perang Israel di Gaza bahkan disebut genosida oleh sejumlah akademisi dan kelompok hak asasi manusia.
Dengan tingginya jumlah korban dalam serangan terbaru di Arad dan Dimona, muncul pertanyaan: apakah Israel meremehkan kemampuan militer Iran?
