Dua pria di atas perahu di sungai di Maiduguri, Negara Bagian Borno (Zakariya Fika, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Banjir ini, yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi di seluruh wilayah tahun ini, memperparah krisis kemanusiaan yang sudah ada di negara-negara yang paling terdampak: Chad, Nigeria, Mali, dan Niger. Lebih dari empat juta orang telah terdampak oleh banjir di Afrika Barat tahun ini, tiga kali lipat dari tahun lalu, menurut PBB.
Operasi penyelamatan masih berlangsung, sehingga sulit untuk menghitung dengan tepat jumlah nyawa yang hilang. Hingga kini, setidaknya 230 orang dilaporkan tewas di Nigeria, 265 di Niger, 487 di Chad, dan 55 di Mali, yang mengalami banjir paling dahsyat sejak tahun 1960-an.
Meskipun Afrika bertanggung jawab atas sebagian kecil emisi gas rumah kaca global, kawasan ini adalah salah satu yang paling rentan terhadap cuaca ekstrem, kata World Meteorological Organization atau Organisasi Meteorologi Dunia awal bulan ini. Di Afrika sub-Sahara, biaya adaptasi terhadap cuaca ekstrem diperkirakan mencapai antara 30 hingga 50 miliar dolar AS per tahun selama dekade berikutnya. Laporan itu memperingatkan bahwa hingga 118 juta orang Afrika bisa terdampak oleh cuaca ekstrem pada tahun 2030.
Maiduguri, ibu kota negara bagian Borno, berada di bawah tekanan besar. Selama dekade terakhir, Borno telah dilanda serangan terus-menerus dari militan Boko Haram, yang ingin mendirikan negara Islam di Nigeria dan telah menewaskan lebih dari 35.000 orang dalam dekade terakhir.