Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Belajar dari Ustaz dan Internet, Begini Kesiapan Jemaah Haji Mandiri
Jemaah haji embarkasi JKB 19 tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Minggu (17/05/2026) pagi waktu Arab Saudi. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
  • Jemaah haji mandiri mempersiapkan diri lewat bimbingan ustaz, literatur digital, dan pelatihan Kemenhaj daerah sehingga tetap memiliki bekal manasik yang matang meski tanpa bergabung dengan KBIHU.
  • Di Bontang, 112 jemaah mandiri mendapat pembinaan teori dan praktik haji selama setahun penuh secara gratis, bahkan tetap dipantau melalui grup WhatsApp untuk pengingat teknis ibadah.
  • PPIH Arab Saudi memastikan seluruh jemaah, termasuk jalur mandiri, tetap dikawal penuh dalam aspek ibadah, kesehatan, dan perjalanan sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jeddah, IDN Times — Menjalankan ibadah di Tanah Suci tanpa bergabung dengan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) atau jalur jemaah haji mandiri rupanya tak menyurutkan kesiapan spiritual tamu Allah. Berbekal literatur digital, bimbingan ustaz lokal, hingga pembinaan gratis dari Kemenhaj di daerah, para jemaah mandiri terbukti memiliki bekal manasik yang matang. Setibanya di Arab Saudi, pemerintah pun menjamin jemaah tidak akan dibiarkan kebingungan dan tetap mendapat pengawalan ibadah secara penuh.

Berikut adalah potret kesiapan jemaah haji mandiri dan jaminan pendampingan dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi.

1. Penantian 14 Tahun, dimudahkan belajar manasik via internet

Hafijatun Saleha, jemaah haji yang belajar mandiri asal Kabupaten Balangan, embarkasi Banjarmasin (BDJ).

Keputusan menjadi jemaah haji mandiri diambil oleh Hafijatun Saleha, jemaah asal Kabupaten Balangan, embarkasi Banjarmasin (BDJ). ASN (Aparatur Sipil Negara) ini berangkat bersama sang ibu setelah menanti antrean selama 14 tahun sejak mendaftar pada 2012 silam.

Saat ditemui di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Minggu (17/5/2026), Hafijatun menceritakan bagaimana ia mempersiapkan keilmuan hajinya. "Kami belajar sudah dari satu tahun yang lalu. Belajar dari buku, internet, dan secara langsung ada ustaz yang mengajari. Setiap minggu itu satu kali (pertemuan)," ungkapnya.

Meski pembekalan manasik resmi dari Kemenhaj di daerahnya hanya berlangsung empat kali, Hafijatun membuktikan bahwa porsi belajar mandiri yang konsisten mampu menutupi keterbatasan tersebut. "Meskipun mandiri, belajar manasiknya tetap bisa dilakukan. Nanti dari pembimbing ibadah kloter juga ada," tambahnya optimistis.

2. Digembleng praktik lapangan tanpa biaya

Jemaah haji embarkasi JKB 19 tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Minggu (17/05/2026) pagi waktu Arab Saudi. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Kesiapan serupa juga ditunjukkan oleh jemaah mandiri asal Kota Bontang, Kalimantan Timur, yang tergabung dalam Kloter 14 Embarkasi Balikpapan (BPN). Ketua Rombongan 7, Adi Suwito Kadi Djoyo Suparto, menceritakan bahwa 112 jemaah di kelompoknya mendapatkan bimbingan manasik intensif selama hampir setahun langsung dari Kemenhaj Kota Bontang.

"Mulai dari teorinya, kemudian praktik di lapangan, cara memakai ihram, niat, mandi, sampai pada rukun, wajib, dan sunnah haji. Insya Allah kami sudah mempelajarinya dengan baik," ujar Adi.

Menariknya, pembinaan setahun penuh tersebut sama sekali tidak memungut biaya operasional alias gratis. "Tidak ada biaya. Kami hanya iuran mandiri seperlunya untuk kepentingan internal bersama, bukan untuk membayar lembaga atau Kemenhaj," tegasnya. Pendampingan jarak jauh dari Kemenhaj Bontang pun terus berlanjut via grup WhatsApp untuk saling mengingatkan hal-hal teknis seperti alas kaki dan masker selama di Tanah Suci.

3. PPIH menjamin jemaah mandiri tetap dikawal penuh

Kepala Daker Bandara PPIH 2026 Abdul Basir di Jeddah (Dok. MCH 2026)

Banyaknya jemaah yang memilih jalur mandiri ini direspons positif oleh PPIH Arab Saudi. Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara, Abdul Basir, menegaskan bahwa Kemenhaj RI berkomitmen memberikan pelayanan prima tanpa membedakan latar belakang pembimbingan jemaah.

"Jemaah mandiri tetap kami layani. Mereka akan dibimbing oleh pembimbing ibadah di masing-masing kloter, juga dibantu oleh ketua rombongan (Karom) dan ketua regu (Karu)," tegas Abdul Basir.

Pemerintah menyadari bahwa pendampingan tidak hanya soal rukun ibadah, melainkan juga menyangkut kesehatan fisik dan alur perjalanan. "Pemerintah tetap hadir membimbing, baik dari sisi ibadah, kesehatan, maupun perjalanan. Baik jemaah yang melalui KBIHU maupun yang mandiri, semuanya tetap menjadi tanggung jawab pemerintah," pungkasnya, memberikan ketenangan bagi seluruh jemaah yang kini mulai bersiap menghadapi puncak ibadah haji.

Editorial Team