Para pejuang Hizbullah dalam sebuah upacara (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah pada Kamis (16/4/2026), setelah berbicara dengan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Gencatan senjata selama 10 hari ini mulai berlaku pada Kamis pukul 17.00 Waktu Bagian Timur (tengah malam waktu Beirut), menghentikan sementara pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang telah berlangsung selama 6 pekan terakhir.
Meski demikian, ketentuan kesepakatan gencatan tersebut masih belum jelas. Netanyahu mengatakan pasukan militernya tidak akan ditarik dari Lebanon selatan selama periode tersebut. Namun, Hizbullah bersikeras bahwa setiap gencatan senjata harus mencakup penghentian serangan secara menyeluruh di seluruh wilayah Lebanon, tanpa kebebasan pergerakan bagi pasukan Israel. Mereka menegaskan bahwa jika Israel tetap menduduki wilayah Lebanon, mereka punya hak untuk melakukan perlawanan.
Menghadapi kondisi ini, Hizbullah dan sekutunya, Nabih Berri, ketua parlemen Lebanon sekaligus pemimpin Gerakan Amal, mengeluarkan pernyataan yang meminta para pendukung mereka untuk tidak langsung kembali ke rumah ketika gencatan senjata mulai berlaku.
“Kami meminta semua orang untuk menahan diri kembali ke kota dan desa hingga situasi dan perkembangan menjadi jelas sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata,” kata Berri, dilansir dari Al Jazeera. Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa Israel memiliki sejarah melanggar kesepakatan.