Grup rock legendaris asal Inggris, Queen, melayangkan protes kepada tim sukses Trump pada 2016 lalu. Melansir Rolling Stone, Trump pertama kali memakai lagu hits Queen berjudul We Are The Champions pada Juni 2016.
Ketika itu, ia masuk babak terakhir pemilihan nominasi calon presiden dari Partai Republik. Lagu diputar saat ia akan memberikan pidato kemenangan di hadapan para pendukungnya.
Gitaris Queen, Brian May, menulis di situsnya bahwa Trump tidak pernah meminta izin untuk memakai lagu tersebut. May juga tidak menutupi sikap keberatannya karena tidak ingin lagu-lagu Queen dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
"Ini bukan pernyataan resmi Queen, tapi saya bisa konfirmasi bahwa izin untuk memakai lagu itu tak pernah diminta maupun diberikan," tulis May dalam situs pribadinya.
"Kami menerima saran soal langkah apa yang bisa kami ambil untuk memastikan ini tidak berlanjut. Apa pun pandangan kami soal platform Trump, mengizinkan musik Queen digunakan sebagai alat kampanye politik selalu berlawanan dengan kebijakan kami," tegasnya.
Rupanya, tim Trump masih keras kepala. Sebulan berikutnya, Trump kembali menggunakan We Are The Champions ketika dirinya lolos sebagai capres dari Partai Republik. Queen pun kembali menunjukkan kegeraman.
"Kami frustrasi karena berulangnya penggunaan lagu kami tanpa izin setelah permintaan sebelumnya untuk berhenti melakukan itu, yang nyatanya tidak diacuhkan oleh Trump dan tim kampanyenya," kata Queen melalui label rekaman Sony/ATV Music.
Apakah para staf Trump menuruti permintaan itu? Rupanya tidak, sebab pada Oktober di tahun yang sama, Trump kembali menggunakan salah satu lagu Queen yaitu We Will Rock You dalam video kampanye yang diunggah ke Twitter. Queen juga menegaskan lagi Trump tidak mendapatkan izin sama sekali untuk memakai lagu tersebut.