Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bendera Denmark sedang berkibar.
potret bendera Denmark (pexels.com/Markus Winkler)

Intinya sih...

  • Denmark dan Greenland berharap Trump menghentikan ancaman.

  • Diplomat Eropa menilai langkah pembentukkan kelompok kerja sudah tepat.

  • Amerika Serikat buka opsi operasi militer untuk ambil alih Greenland.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Denmark gagal mencapai kesepakatan dengan Donald Trump untuk mempertahankan wilayah Greenland. Sebab, menurut keterangan Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, Trump tetap bersikukuh ingin mengambil alih Greenland.

“Kami tidak berhasil mengubah posisi Amerika (Serikat). Jelas bahwa Presiden (Donald Trump) memiliki keinginan untuk menaklukkan Greenland. Tentu saja ini sangat emosional bagi kita semua,” ujar Rasmussen pada Rabu (14/1/2026), seperti dilansir Politico.

1. Denmark dan Greenland sudah berharap Donald Trump mau menghentikan ancaman

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Jackson A. Lanier)

Dalam pertemuan dengan Wakil Presiden, JD Vance, dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, pada Rabu, Pemerintah Denmark dan Pemerintah Greenland sebetulnya sudah berharap bisa menghentikan ambisi Donald Trump untuk menganeksasi Greenland. Namun, upaya itu justru gagal dilakukan.

Dalam pertemuan itu, AS, Denmark, dan Greenland sepakat membentuk kelompok kerja tingkat tinggi guna mencari jalan keluar. Namun, Rasmussen tidak yakin langkah tersebut bisa membuahkan hasil positif untuk menghentikan ambisi AS mengambil alih Greenland. Ia justru ingin AS tetap menghormati wilayah Denmark dan Greenland serta berhenti memberi ancaman.

“Menurut pandangan kami, kelompok tersebut harus fokus pada bagaimana mengatasi kekhawatiran keamanan Amerika Serikat, sambil tetap menghormati batasan-batasan yang ditetapkan oleh Kerajaan Denmark,” kata Rasmussen dilansir Al Jazeera.

2. Diplomat Eropa menilai langkah pembentukkan kelompok kerja sudah tepat

potret logo Uni Eropa (pexels.com/Dusan Cvetanovic)

Seorang diplomat Eropa yang enggan disebut namanya memiliki tanggapan berbeda dari Lars Lokke Rasmussen soal rencana pembentukan kelompok kerja antara AS, Denmark, dan Greenland. Ia menilai upaya tersebut sudah tepat.

Sebab, ini menjadi sinyal bahwa Donald Trump beserta jajarannya masih mau mengedepankan jalur diplomasi untuk mengatasi ketegangan dengan Denmark dan Greenland. Ini juga menjadi peluang agar AS mau berkompromi untuk bekerja sama dengan Greenland alih-alih melakukan aneksasi terhadap wilayah mereka. 

Di sisi lain, masyarakat Greenland ingin suara mereka didengar. Sebab, hampir seluruh warga Greenland menolak untuk jadi bagian dari AS. Mereka ingin hidup damai tanpa dibayangi ancaman Washington terhadap tanah kelahirannya.

“Kenapa kalian tidak bertanya pada kami, Kalaallit? Terakhir kali jajak pendapat dilakukan, hanya 6 persen warga Greenland/Kalaallit yang mendukung untuk menjadi bagian dari AS,” tulis akun perwakilan Pemerintah Greenland di AS dalam sebuah unggahan di laman X.

3. Amerika Serikat buka opsi operasi militer untuk ambil alih Greenland

potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/David Dibert)

Belakangan ini, Donald Trump memang makin terang-terangan ingin mengambil alih wilayah Greenland. Sebab, ia ingin membuat pangkalan militer di sana dengan dalih mengamankan wilayah Arktik dari ancaman China dan Rusia.

“Jika kita tidak masuk, Rusia akan masuk dan China juga akan masuk. Tidak ada yang bisa dilakukan Denmark jika Rusia atau China ingin menduduki Greenland,” ujar Trump dilansir Politico.

Beberapa waktu lalu, Trump bahkan mengancam akan melakukan operasi militer untuk menganeksasi Greenland. Ini sama seperti yang ia lakukan di Venezuela saat menangkap Presiden Nicolas Maduro.

Ambisi Trump ini sebetulnya sudah mendapat kecaman dari Denmark dan Greenland. Namun, kecaman itu rupanya tidak lantas membuat Trump jera. Ia bersikukuh ingin mengambil alih Greenland untuk dijadikan wilayah teritorial AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team