ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)
Araghchi menyebut mekanisme pergantian kepemimpinan sesuai konstitusi telah dijalankan. Ia menjelaskan bahwa dewan transisi sudah dibentuk dan beranggotakan tiga figur, yaitu presiden, kepala peradilan, serta seorang ahli hukum dari Dewan Wali.
“Kelompok tiga orang ini akan bertindak sebagai penanggung jawab kepemimpinan sebelum pemimpin baru dipilih. Saya perkirakan itu memakan waktu singkat. Mungkin dalam satu atau dua hari, mereka akan memilih pemimpin baru untuk negara ini,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.
Dewan tersebut terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Peradilan Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, dan Ayatollah Alireza Arafi yang berusia 67 tahun. Melalui siaran televisi pemerintah, Pezeshkian menyatakan dewan telah mulai bekerja, menyebut kematian Khamenei sebagai kejahatan besar, serta menetapkan tujuh hari libur nasional tambahan di luar masa berkabung 40 hari.
Dalam sistem Iran, kewenangan memilih pemimpin tertinggi berada di tangan Majelis Pakar. Lembaga berisi 88 ulama senior yang dipilih rakyat itu mengambil keputusan melalui suara mayoritas sederhana, dan baru dua kali menjalankan mandat tersebut sejak Republik Islam berdiri pada 1979, yakni pada 1989 saat Khamenei menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Majelis Pakar diperkirakan segera bersidang untuk menentukan pengganti, meski situasi keamanan masih dipengaruhi serangan AS-Israel yang berlanjut. Sesuai aturan, kandidat harus ulama pria dengan kapasitas politik, otoritas moral, dan loyalitas penuh terhadap Republik Islam.
Dilansir dari CNN, sejumlah analis memunculkan beberapa nama potensial sebagai kandidat pemimpin tertinggi:
• Mojtaba Khamenei (56 tahun): putra kedua almarhum yang memiliki pengaruh kuat di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Basij. Namun, ia menghadapi penolakan karena suksesi dari ayah ke anak dinilai tak dapat diterima, belum memiliki pangkat ulama tinggi, serta telah dikenai sanksi Amerika Serikat sejak 2019.
• Alireza Arafi (67 tahun): wakil ketua Majelis Pakar, anggota Dewan Wali, sekaligus kepala sistem seminari Iran. Ia dikenal sebagai sosok kepercayaan Khamenei di bidang birokrasi dan fasih berbahasa Arab serta Inggris, meski koneksinya di kalangan keamanan disebut masih terbatas.
• Mohammad Mehdi Mirbagheri (awal 60-an): ulama garis keras yang duduk di Majelis Pakar dan dikenal sangat menentang Barat. Saat ini ia memimpin Akademi Ilmu Pengetahuan Islam di Qom.
• Hassan Khomeini (awal 50-an): cucu Ayatollah Ruhollah Khomeini yang bertugas mengelola makam sang pendiri Republik Islam. Ia dipandang kurang garis keras, pernah dilarang mencalonkan diri ke Majelis Pakar pada 2016, dan pengaruhnya di lingkungan keamanan dinilai tak terlalu besar.
• Hashem Hosseini Bushehri (akhir 60-an): wakil ketua pertama Majelis Pakar yang dikenal dekat dengan Khamenei. Meski demikian, profil publiknya relatif rendah dan hubungannya dengan IRGC juga disebut terbatas.