ilustrasi anggota PBB (pexels.com/Hugo Megalhaes)
Setelah voting, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menilai tindakan mengarahkan senjata ke ekonomi global tak dapat diterima. Ia juga menyebut Rusia dan China berpihak pada rezim yang menekan kawasan Teluk dan rakyatnya sendiri.
Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani menyampaikan kegagalan adopsi resolusi memberi pesan keliru kepada dunia. Ia menilai kondisi itu menunjukkan ancaman terhadap jalur perairan internasional bisa terjadi tanpa respons tegas dari lembaga penjaga perdamaian global.
Di sisi lain, Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia dan Duta Besar China untuk PBB Fu Cong menyebut AS dan Israel sebagai pemicu konflik yang memperluas krisis global. Keduanya menegaskan penghentian operasi militer menjadi langkah paling mendesak.
Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menanggapi bahwa isi resolusi justru akan memperkuat tindakan AS dan Israel.
“Biarkan saya jelas — teks ini hanya akan memberanikan AS dan rezim Israel untuk melanjutkan tindakan-tindakan tidak sah dan kejahatan mengerikan mereka, sambil melindungi dari pertanggungjawaban,” ujarnya, dikutip Fox News.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan kepada Fox News bahwa Iran memiliki batas waktu hingga pukul 8 malam Waktu Timur untuk mengambil keputusan.
“Hanya Presiden yang tahu di mana posisi saat ini dan apa yang akan dia lakukan,” ujarnya.