Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Drama Visa Batal: Perjuangan 2 Jemaah Remaja Mencapai Madinah
Novia Ghina dan Rabiatul Adawiyah berfoto bersama Kadaker Bandara, Abdul Basir, dan jajaran petugas PPIH lainnya (Dok. MCH 2026)
  • Dua remaja asal Pulang Pisau tertahan lima jam di Bandara Madinah karena sistem imigrasi mendeteksi visa mereka dibatalkan, membuat keduanya panik dan terpisah dari rombongan.
  • Petugas PPIH bersama KJRI dan Kemenhaj RI bergerak cepat melakukan lobi lintas negara hingga visa kedua jemaah berhasil diterbitkan kembali setelah proses validasi ulang.
  • Selama menunggu, Novia dan Rabiatul mendapat pendampingan penuh dari petugas hingga akhirnya bisa bergabung kembali dengan rombongan di hotel dan siap menjalani ibadah haji.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Madinah, IDN Times - Hiruk-pikuk kedatangan jemaah haji di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, pada Sabtu (2/5/2026) mendadak diwarnai ketegangan. Di tengah ribuan jemaah yang bersukacita melangkah keluar terminal, dua remaja putri asal Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, justru harus menepi.

Keduanya adalah Novia Ghina dan Rabiatul Adawiyah, jemaah dari Embarkasi Banjarmasin (BDJ) yang perjalanannya menuju Tanah Suci sempat terhambat oleh palang pintu imigrasi Arab Saudi. Berjam-jam dipenuhi ketidakpastian tanpa memegang paspor, air mata kepanikan akhirnya berubah menjadi senyum kelegaan pada sore harinya.

1. Tertahan lima jam akibat visa "ter-cancel" oleh sistem

Novia Ghina dan Rabiatul Adawiyah bersama Kadaker Bandara Abdul Basir serta jajaran petugas PPIH lainnya di area bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz (Dok. MCH 2026)

Insiden ini bermula pada siang hari sekitar pukul 12.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Saat proses pemeriksaan dokumen di pintu kedatangan, sistem imigrasi bandara tiba-tiba membaca pembatalan visa milik Novia dan Rabiatul. Hal ini membuat kedua remaja tersebut tidak diizinkan melangkah keluar menuju Madinah.

Bagi jemaah seusia mereka, terpisah dari rombongan di negara asing tentu menjadi pengalaman yang mendebarkan. Novia tak menampik rasa takut yang menyergapnya saat itu. "Awalnya panik, disuruh nunggu berjam-jam. Paspor juga tidak ada di tangan karena sedang diproses. Paniklah, masa tidak?" ungkap Novia menceritakan detik-detik saat ia dilarang melintas.

2. Gerak cepat petugas dan lobi lintas negara Kemenhaj RI

Jemaah haji SUB-16 disambut petugas PPIH setibanya di Madinah

Mengetahui ada jemaahnya yang tertahan, mesin birokrasi dan perlindungan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) langsung bekerja. Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir, memimpin langsung upaya pendampingan bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan perwakilan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI) di bandara.

Masalah sistemik ini membutuhkan lobi yang tak kalah cepat hingga ke Tanah Air. "Alhamdulillah, setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, visa keduanya bisa diterbitkan kembali. Kami meminta bantuan Kemenhaj di Jakarta untuk proses validasi ulang karena visa mereka sempat ter-cancel," terang Abdul Basir.

3. Perasaan lega dan pendampingan tanpa henti

Novia Ghina dan Rabiatul Adawiyah bersama Kadaker Bandara Abdul Basir serta jajaran petugas PPIH lainnya di area bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz (Dok. MCH 2026)

Selama proses negosiasi dan validasi ulang yang memakan waktu lima jam tersebut, Novia dan Rabiatul tidak ditinggalkan sendirian. Kesigapan petugas PPIH dan pihak maskapai Garuda Indonesia yang terus mendampingi menjadi penawar rasa cemas mereka.

Sekitar pukul 17.00 WAS, lampu hijau dari pihak imigrasi akhirnya menyala. "Deg-degan dan panik, tapi alhamdulillah ada bantuan yang tiba-tiba datang. Terima kasih banyak untuk para petugas yang sudah membantu kami," tutur Rabiatul yang akrab disapa Rabiah ini dengan penuh rasa syukur.

4. Mental baja Gen Z siap jalani ibadah ke Tanah Suci

Suasana di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi pada Minggu (19/04/2026) (IDN Times/Yogie Fadila)

Lolos dari imigrasi, Abdul Basir beserta tim langsung mengantarkan kedua remaja tersebut menuju hotel untuk dipertemukan kembali dengan orang tua dan rombongan satu kloternya. "Keduanya kami antarkan ke hotel tempat tinggalnya di Madinah bersama orang tuanya. Alhamdulillah mereka bisa berkumpul kembali dengan jemaah kloternya," ujar Basir.

Menariknya, drama lima jam di bandara ini tak sedikit pun menyurutkan mental spiritual mereka. Sebagai bagian dari generasi Z yang melek informasi, Novia dan Rabiatul mengaku sangat siap menjalani ibadah haji. Selain telah mengikuti proses manasik secara disiplin di Tanah Air, keduanya juga membekali diri dengan riset mandiri melalui internet. Kini, mereka siap merajut pengalaman spiritualnya di Kota Nabi.

Editorial Team